Memandikan kucing di rumah bukan soal menghafal urutan langkah dari membasahi sampai mengeringkan, melainkan soal mengambil lima keputusan yang saling mengunci: apakah mandi ini memang perlu hari ini, seberapa hangat dan sedalam airnya, bagaimana tubuh kucing ditahan, seberapa bersih bilasannya, dan bagaimana bulunya dikeringkan. Kalau satu mata rantai gagal, kegagalannya jarang muncul saat itu juga. Ia muncul belakangan: kucing yang mulai kabur tiap kali pintu kamar mandi terbuka, bulu yang digaruk terus sampai pangkal ekornya kemerahan, atau tubuh yang masih terasa lembap tiga jam setelah mandi padahal kucingnya kelihatan sudah kering.

Mulai dari pertanyaan yang benar
Saya hampir selalu mulai bukan dari ember, tapi dari satu pertanyaan: hari ini perlu mandi penuh atau tidak. Kucing itu membersihkan dirinya sendiri, dan kucing sehat berbulu pendek bisa lewat berbulan-bulan tanpa mandi penuh tanpa jadi bau. Yang benar-benar membuat mandi perlu itu jumlahnya sedikit saja: bulunya berminyak dan lepek padahal tidak habis dielus, ada sesuatu yang menempel dan tidak bisa dijilat habis, atau kucingnya memang tidak sanggup menjangkau bagian tertentu dari tubuhnya.
Yang terakhir ini sering dilewatkan. Kucing yang gemuk, kucing yang sudah tua, dan kucing yang sedang tidak enak badan bisa kesulitan menjangkau bagian belakang dan bawah ekor. Kalau itu masalahnya, mandi penuh memang membantu, tapi bukan satu-satunya jalan — bagian itu juga bisa dibersihkan dengan kain lembap sebelum sampai perlu diguyur seluruh badan. Bedanya besar, karena kucing yang tidak suka air biasanya tidak separah itu kalau yang basah hanya sebagian kecil.
Kalau kucingnya sedang sakit, baru selesai dirawat, atau ada luka atau keropeng yang belum jelas penyebabnya, saya tidak memutuskan sendiri. Itu bukan urusan mandi.
Air, kedalaman, dan kaki yang selip
Soal air, saya tidak pernah menebak dari kran. Saya cek dengan bagian dalam pergelangan tangan, karena di situ kulitnya paling tipis. Air harus terasa hangat suam-suam kuku, mendekati suhu tubuh kucing yang sekitar 38 derajat. Kalau terasa hangat nyaman untuk saya, biasanya masih agak terlalu hangat untuk kucing, dan kalau terasa dingin di pergelangan tangan, kucing akan merasakannya jauh lebih dingin lagi.
Satu hal yang khas rumah di sini: air dari kran bisa terasa jauh lebih dingin di pagi hari atau saat hujan berhari-hari. Saya selalu tampung dulu di ember dan biarkan sebentar, bukan menyiram langsung dari kran.
Kedalamannya yang saya pegang adalah sebatas bawah dada. Kucing harus bisa berdiri dengan kaki menginjak dasar, bukan berenang atau mengambang. Kalau perutnya menyentuh air dan kaki belakangnya mulai menendang-nendang mencari pijakan, itu tanda airnya terlalu dalam — dan dari titik itu, seluruh sisa prosesnya akan jadi pertarungan.
Dasar ember yang licin itu masalah tersendiri. Kaki kucing yang selip di plastik halus membuatnya panik bukan karena airnya, tapi karena tidak ada pijakan. Saya taruh keset karet kecil atau handuk tipis di dasar ember supaya cakarnya mencengkeram sesuatu.
Dua hal dilakukan sebelum air menyentuh bulu. Pertama, memotong ujung kuku — bagian beningnya saja, jangan sampai kena bagian yang ada pembuluh darahnya. Kuku yang panjang menggores, dan goresan pertama itulah yang biasanya mengubah kucing tenang jadi kucing yang memanjat bahu. Kedua, menyisir bulu. Bulu yang kusut kalau basah akan mengeras jadi simpul yang makin susah dibuka, dan menariknya saat basah terasa sakit. Menyisir juga jadi cara saya memeriksa kulit: kalau ada benjol, kerak, atau luka, saya berhenti dan tidak melanjutkan mandi hari itu.
Sisanya ada di bilasan
Bagian yang paling sering diremehkan justru bagian yang paling menentukan. Membasahi dimulai dari belakang, dari leher ke ekor, bukan dari kepala. Busanya diencerkan sedikit dengan air dulu supaya tidak menempel terlalu pekat di satu titik, lalu dioles dengan gerakan searah bulu. Kepala paling akhir, dan itu pun tidak disiram — cukup kain yang hampir kering, diperas sampai tidak menetes, lalu diusap pelan di sekitar muka. Telinga dan mata tidak disentuh air sama sekali. Air yang masuk telinga bikin kucing menggeleng dan menggaruk telinganya berulang kali; sampo yang kena mata bikin perih, dan kucing akan menggosok matanya dengan kaki yang barusan menginjak lantai kamar mandi.
Membilas sampai bening adalah titik yang tidak boleh disingkat. Saya bilas sambil meraba bulunya, dan ukurannya sederhana: air yang jatuh ke lantai harus sudah bening, dan bulunya tidak lagi terasa licin di sela jari saya. Kalau masih terasa kesat atau licin, ulangi. Sisa sampo yang tertinggal di bulu tidak kelihatan saat basah, tapi muncul beberapa jam kemudian sebagai gatal. Kucing lalu menjilat tubuhnya jauh lebih banyak dari biasanya untuk membersihkannya sendiri, dan jilatan berlebih itulah yang bikin bulu kusam dan kulit iritasi di bagian yang paling sering dijilat.
Saya juga menyiapkan air bilasan yang tetap hangat, bukan air kran yang sudah dingin, karena membilas itu tahap yang paling lama dan paling sering diulang.
Mengeringkan itu dua tahap, bukan satu
Tahap pertama handuk. Bukan digosok keras, tapi ditekan-tekan dan ditepuk, dari punggung ke kaki, dengan handuk yang agak tebal dan menyerap. Gosok keras bikin bulu kusut dan justru mendorong air kembali ke kulit. Handuk kedua biasanya saya butuhkan kalau bulunya tebal, karena handuk pertama akan jenuh dan berhenti menyerap.
Tahap kedua adalah ruangan. Ini yang sering saya lihat dilewatkan: kucing sudah tampak kering di permukaan, lalu dilepas begitu saja ke lantai keramik di ruangan ber-AC. Kucing yang basah kehilangan panas tubuh jauh lebih cepat, dan yang paling sering masih lembap adalah pangkal ekor, perut bagian bawah, dan bawah dagu — bagian yang tidak pernah kena angin dan yang selalu tertindih saat kucing duduk. Kalau bagian itu dibiarkan, kucing akan menggigil pelan dan mencari tempat panas.
Kalau memakai pengering rambut, saya pakai suhu paling rendah, terus digerakkan, dan jaraknya sekitar sepanjang lengan. Suaranya yang membuat banyak kucing panik, jadi kalau kucingnya mengejar-ngejar alatnya atau lari, saya berhenti dan kembali ke handuk. Ruangan tertutup tanpa AC dengan handuk kering biasanya cukup, hanya butuh waktu lebih lama.
Tanda untuk berhenti
Ada satu hal yang saya pegang di semua tahap: kalau napasnya cepat, kupingnya terlipat rata, pupilnya membesar, atau tubuhnya membeku sama sekali, saya bungkus handuk dan berhenti — bukan dilanjutkan sampai selesai. Menyelesaikan proses hari ini dengan paksa hanya menukar sepuluh menit sekarang dengan berbulan-bulan kucing yang menghindar setiap kali pintu kamar mandi terbuka. Pendekatan pelan bukan berarti lambat selamanya; maksudnya supaya beberapa minggu lagi, kucing masih mau berdiri di dekat ember tanpa ditekan.
Kalau saya harus merangkumnya, tidak ada satu langkah ajaib di sini. Yang ada rantai keputusan, dan setiap tahap menentukan tahap berikutnya: kucing yang kakinya tidak selip tidak akan panik saat dibasahi, kucing yang tidak panik lebih mudah dibilas sampai benar-benar bening, dan kucing yang benar-benar bening tidak akan gatal dan gelisah saat dikeringkan. Kalau di tengah proses terasa ada yang salah, saya bubarkan saja dan mengulang lain hari. Tidak ada jadwal yang lebih penting daripada kucing yang masih mau didekati besok.