Kucing yang kabur tiap kali disisir hampir selalu bukan kucing yang 'tidak bisa diajar'. Ia kucing yang belum pernah melewati urutan latihan yang benar. Toleransi terhadap sikat adalah keterampilan yang bisa dilatih, dan urutannya selalu sama: kenalkan alatnya dulu tanpa menyentuh bulu, batasi sesi satu sampai dua menit, lalu akhiri sebelum kucing mulai memberontak. Yang menentukan berhasil atau tidak bukan merek sikat atau panjang bulu, melainkan kapan Anda berhenti dan apa yang terjadi tepat sebelum Anda berhenti.

Saya sampai pada kesimpulan itu setelah bertahun-tahun melakukan hal yang salah. Dulu saya pikir masalahnya ada di sikat: terlalu tajam, terlalu kecil, terlalu kasar. Saya ganti sikat tiga kali dan hasilnya sama. Kucing saya tetap melesat begitu benda itu muncul. Yang berubah baru setelah saya berhenti menyalahkan alatnya dan mulai memperhatikan urutan kejadian.
Sikat harus berhenti jadi pertanda hal buruk
Coba duduk bersila di lantai. Letakkan sikatnya di lantai, di samping lutut Anda. Jangan diangkat, jangan diarahkan ke kucing. Biarkan dia datang sendiri, mencium gagangnya, mungkin menggesekkan pipi ke bulunya. Kalau dia menjauh, ya sudah. Jangan dikejar, jangan dipindahkan sikatnya ke arah dia. Besok lakukan lagi di tempat yang sama, dengan sikat yang sama.
Di hari ketiga atau keempat, angkat sikatnya setinggi dada, tahan dua detik, lalu turunkan lagi tanpa menyentuh. Kedengarannya berlebihan, dan memang terasa konyol saat dijalani. Tapi yang sedang dibangun di sini bukan keberanian, melainkan prediksi. Kucing perlu belajar bahwa sikat muncul dan tidak ada apa-apa setelahnya.
Kalau kucing Anda sudah lari begitu melihat sikat, justru itu titik awal yang paling aman. Tidak ada yang perlu diperbaiki, cuma perlu dimulai dari nol.
Satu dua menit, berhenti sebelum dia memberontak
Hari pertama sikat benar-benar menyentuh bulu, saya menyisir tiga kali di pipi, lalu saya berhenti. Tiga sapuan. Saya letakkan sikatnya, saya garuk dagunya sebentar, lalu saya berdiri dan pergi. Totalnya mungkin empat puluh detik.
Yang membuat ini bekerja bukan durasinya, tapi bagian akhirnya. Sesi yang berakhir sebelum kucing memberontak meninggalkan ingatan terakhir berupa 'tidak terjadi apa-apa'. Sesi lima menit yang berakhir ricuh juga meninggalkan ingatan terakhir, hanya saja isinya berbeda. Dan yang menempel paling kuat di kepala kucing biasanya bukan lima menit pertamanya, tapi sepuluh detik terakhirnya.
Saya pernah menang sekali. Saya menyisir lima menit penuh sambil menahan badannya dengan tangan, dan dia diam sampai selesai. Saya kira itu kemajuan. Yang terjadi sesudahnya: tiga hari dia tidak mau duduk di lantai kamar kalau saya ada di sana. Sesi itu menang, tapi harganya terlalu mahal.
Kalau ragu, potong lagi. Satu menit tenang setiap hari selama dua minggu lebih berguna daripada sepuluh menit sekali seminggu yang berakhir dengan kucing sembunyi di bawah kasur.
Mulai dari area yang sudah dia terima
Setiap kucing punya area yang memang sudah nyaman disentuh. Pipi, bawah dagu, sisi leher, dan punggung bagian atas biasanya paling aman. Di situlah sesi dimulai, bukan di tempat yang paling kusut.
Perut, dada, ketiak, dan kaki belakang adalah area paling akhir, kalau memang sampai ke sana. Saya sendiri tidak pernah bisa menyisir perut kucing saya lebih dari dua sapuan tanpa dia berguling dan bangkit. Setelah dua tahun, saya berhenti memaksakan. Dua sapuan perut setiap beberapa hari sudah cukup, sisanya dia urus sendiri.
Yang perlu dijaga: sapuan pendek, searah tumbuh bulu, tanpa menarik simpul. Kalau bulunya kusut, jangan disikat dari akar. Pisahkan dulu dengan tangan dan mulai dari ujungnya. Satu tarikan yang menyakitkan bisa membatalkan kemajuan seminggu.
Tanda yang sering disalahartikan sebagai 'dia sudah anteng'
Orang biasanya baru berhenti kalau kucingnya mencakar atau melompat. Padahal ada satu tanda yang muncul jauh sebelum itu, dan justru paling sering dibaca salah: kucing membeku.
Duduk diam bukan berarti nyaman. Perhatikan telinganya. Telinga yang mulai rata ke samping, ujung ekor yang mengetuk-ngetuk lantai, kulit punggung yang berkedut, pupil yang melebar padahal ruangan tidak gelap. Kalau salah satu ini muncul, selesai. Bukan 'tinggal dua sapuan lagi'. Begitu dia membeku, dia sudah memutuskan, dan sisa sesi itu cuma menghabiskan waktu sebelum dia kabur.
Menahan kucing memperlambat semuanya
Kalau Anda memeluk, menggenggam, atau membungkusnya supaya cepat selesai, Anda sedang mengajari dia bahwa duduk manis berujung pada terkunci. Cara yang lebih aman: lipat handuk di pangkuan, biarkan kucing duduk di atas handuk itu. Handuk di sini memberi pijakan supaya kakinya tidak licin, bukan untuk mengikat. Satu tangan menyisir, tangan lain bebas, badan tetap terbuka. Kalau dia mau turun, biarkan turun. Berhenti di situ.
Jeda juga bekerja lebih baik daripada tahanan. Sisir, berhenti tiga ketukan jari, lanjut lagi. Gerakan berhenti-mulai itu memberi kucing kesempatan memutuskan untuk tetap tinggal, dan keputusan yang dia ambil sendiri jauh lebih tahan lama daripada yang dipaksa.
Tempat dan jam yang sama
Kucing menyusun dunia dari pola. Kalau menyisir selalu terjadi setelah makan, di kasur yang sama, sekitar jam yang sama, tubuhnya sudah siap sebelum sikatnya dikeluarkan. Kalau waktunya acak, kadang pagi kadang malam, kadang di sofa kadang di kamar mandi, dia tidak pernah bisa memprediksi, dan kucing yang tidak bisa memprediksi selalu waspada.
Pilih jam saat dia memang sedang mengantuk, bukan saat dia baru bangun dan penuh energi. Setelah makan besar biasanya paling pas.
Kalau dua minggu berjalan dan tidak ada perubahan
Bagian ini perlu dikatakan apa adanya. Latihan seperti ini tidak selalu berhasil dalam dua minggu. Ada kucing yang butuh berbulan-bulan hanya untuk menerima sikat menyentuh punggungnya. Ada juga yang bertahan di satu menit seumur hidupnya, dan itu bukan kegagalan. Satu menit tenang setiap hari sudah cukup untuk mencegah kusut besar, terutama kalau Anda rajin menyisir bagian yang paling rawan, seperti belakang telinga dan bawah kaki depan.
Tapi kalau ada hal lain yang Anda lihat, ini bukan soal latihan lagi. Gumpalan bulu yang menempel erat ke kulit, luka, kulit yang merah atau berkerak, atau kucing yang menggeram saat satu area tubuh disentuh padahal sebelumnya biasa saja. Yang seperti itu perlu diperiksa lebih dulu sebelum Anda melanjutkan latihan apa pun.
Dan kalau setelah berminggu-minggu mencoba kucingnya benar-benar tidak bisa ditangani, memanggil groomer bukan berarti Anda gagal. Kadang yang dibutuhkan hanya tangan yang lebih tenang di ruangan yang lebih netral.
Yang saya pegang sekarang sederhana: satu sesi yang berhenti lebih cepat dari yang saya mau, setiap hari, mengalahkan satu sesi panjang yang berakhir dengan kucing sembunyi di bawah kasur. Sikat di lantai, tiga sapuan, selesai. Besok lagi.