Litter box perlu disaring dua kali sehari, pagi dan malam, lalu pasirnya diganti total dan kotaknya dicuci setiap satu sampai dua minggu sekali untuk satu kucing. Kalau kotak itu berdiri di kamar mandi yang lembap, hitungan dua minggu terlalu longgar; di rumah saya rentangnya menciut jadi lima sampai tujuh hari. Bukan karena kucingnya lebih kotor, tapi karena lantai dan dinding di sekitarnya tidak pernah benar-benar kering.

Setengah enam pagi, jongkok di ubin dingin
Saya selalu mulai dari situ. Sekop plastik di tangan kanan, kantong kertas bekas di kiri, lutut menempel ubin. Yang pertama saya cari bukan bau, tapi gumpalan. Pasir menggumpal bekerja dengan menyerap cairan dan mengunci bongkahan itu jadi padat; selama bongkahannya masih utuh dan tidak hancur saat diangkat, bau belum benar-benar keluar. Begitu bongkahan mulai remuk di sekop, artinya cairan sudah meresap lebih jauh dari yang saya kira, dan sisa itulah yang kemudian menguap jadi bau menusuk di hidung bagian atas.
Urutannya sederhana: kencing dulu, baru tinja. Tinja yang sudah tercecer di bawah gumpalan basah susah diangkat tanpa mengotori sisa pasir di sekelilingnya. Setelah sekop bersih, saya ratakan permukaannya, tutup kantong, ikat, lalu langsung dibuang ke tempat sampah luar. Kalau kantong itu saya tinggal di dekat pintu kamar mandi sampai sore, seluruh pekerjaan pagi tadi jadi tidak ada artinya.
Saya tidak menambah pasir baru setiap kali menyaring. Cukup satu sampai dua genggam kalau permukaannya mulai turun, supaya kedalaman sekitar lima senti tetap terjaga. Terlalu banyak menambah pasir tanpa pernah mengganti total justru bikin lapisan bawah menumpuk debu halus yang menyerap bau dan menyimpannya.
Kenapa dua kali, bukan sekali
Satu kali sehari secara teknis mungkin, tapi hasilnya terasa sekali di rumah kecil. Kalau saya hanya menyaring malam, maka dari pukul tujuh pagi sampai saya pulang, ada dua kali buang air yang menunggu di dalam kotak sepanjang hari. Di ruangan yang tertutup dan tanpa sirkulasi, amonia dari urin punya waktu berjam-jam untuk menguap dan menempel ke kain: gorden, seprai, kaus yang dijemur di dalam. Malamnya saya menyaring sampai bersih, tapi baunya sudah pindah tempat.
Karena itu saya pegang dua jadwal tetap. Sekitar pukul setengah enam pagi, sebelum aktivitas apa pun. Dan sekitar pukul sembilan malam, sebelum saya mandi. Yang malam itu yang paling menentukan kualitas tidur saya.
Saat kotaknya pindah ke kamar mandi
Kamar mandi di rumah saya sempit, berlantai ubin, dengan jendela kecil yang tidak pernah saya tutup. Awalnya saya pikir tempat itu ideal: gampang disiram, jauh dari ruang makan. Yang saya tidak perhitungkan adalah uap air.
Setiap kali ada yang mandi pakai air panas, kelembapan di ruangan itu naik dan bertahan lama. Pasir yang biasanya kering sampai ke dasar jadi terasa dingin dan lembap di bagian bawah, dan gumpalan di lapisan itu berhenti mengeras dengan benar. Pasir yang lembap adalah tempat bakteri bekerja. Baunya berubah dari bau tanah jadi bau apek yang menempel di hidung, bukan bau tajam yang jelas. Bau apek inilah yang paling sulit saya sadari, karena hidung saya sudah terbiasa setelah lima menit berdiri di ruangan itu.
Tiga hal yang saya ubah begitu kotak pindah ke sana.
Pertama, siklus ganti total dipercepat, dari dua minggu jadi sekitar lima sampai tujuh hari. Kalau musim hujan dan tidak ada matahari untuk mengeringkan, kadang empat hari.
Kedua, kotak saya geser menjauh dari mesin cuci dan pemanas air. Sudut itu menyimpan panas dan kelembapan paling lama; dinding di belakang mesin cuci bahkan terasa dingin dan berembun beberapa jam setelah mencuci. Sekarang kotaknya di dekat pintu, di jalur angin keluar.
Ketiga, tutupnya saya buka. Kotak tertutup memang menyembunyikan pemandangan, tapi di ruangan kecil tanpa jendela besar, uap amonia terkumpul di dalam dan menyembur keluar begitu pintunya dibuka. Bagi saya itu justru lebih menyengat daripada kotak terbuka. Membiarkan tutupnya terbuka, atau memakai kotak terbuka, membuat udara bergerak dan bau tidak menumpuk jadi ledakan.
Cuci total: yang menentukan adalah keringnya
Kalau sudah waktunya ganti total, urutannya begini. Sisa pasir dibuang, kotak dibawa ke lantai kamar mandi, disiram air panas, lalu digosok dengan sabun yang tidak berparfum. Saya sengaja tidak memakai sabun wangi atau pembersih lantai beraroma jeruk. Kucing mengendus kotaknya jauh lebih teliti daripada saya, dan sisa wangi kimia bisa membuat dia enggan masuk. Kalau lantai sudah saya pel dengan pembersih beraroma, kotaknya saya bilas dua kali, bukan sekali. Sudut dalam dan bibir atas kotak digosok dengan sikat kecil, karena di situlah kerak urin menempel tipis dan tidak terlihat.
Setelah dibilas, ada tahap yang paling sering dilewatkan: mengeringkan sampai benar-benar kering. Saya lap dengan kain microfiber, lalu diamkan di bawah kipas angin atau di teras kalau ada matahari. Kalau saya menuang pasir ke kotak yang masih menyisakan air di sudutnya, kelembapan itu langsung tercampur ke lapisan bawah, dan dalam dua sampai tiga hari baunya kembali, lebih cepat dari jadwal normal. Saya pernah mengalaminya sendiri, dan sejak itu saya selalu menunggu sampai ubin di sekitarnya juga kering sebelum kotak diletakkan kembali.
Yang saya berhenti lakukan
Saya berhenti menutupi bau dengan pengharum ruangan atau pasir beraroma kuat. Keduanya hanya menambah lapisan bau di atas bau, dan hidung saya jadi tidak bisa lagi menilai apakah jadwal saya masih bekerja. Saya juga berhenti menyaring buru-buru tanpa meratakan pasir. Permukaan yang bergelombang membuat kucing menggali lebih dalam dan mengaduk lapisan bawah yang sudah terisi.
Dan satu hal yang perlu dibedakan. Kalau kucing yang biasanya rajin masuk kotak tiba-tiba menolak, kencing di tempat lain, atau masuk lalu keluar tanpa melakukan apa-apa berulang kali, itu bukan tanda jadwal bersih saya kurang rapat. Menambah frekuensi menyaring tidak akan menyelesaikannya. Tanda seperti itu yang saya bawa ke dokter hewan, bukan saya tangani sendiri dengan menyikat kotak lebih keras.
Satu catatan terakhir: ritme ini disusun untuk satu kucing di rumah kecil. Begitu ada dua kucing atau lebih, dua kali sehari tidak cukup dan ganti totalnya ikut maju. Di titik itu, jumlah kotaknya yang lebih menentukan daripada jadwalnya.