Kalau kucing kabur setiap kali matanya dibersihkan, yang perlu diubah bukan pegangan Anda, melainkan urutannya. Mulailah tanpa kapas sama sekali: sentuh kepala dan pipi dengan tangan kosong, beri camilan, ulangi selama beberapa hari, dan biarkan kapas muncul belakangan. Kucing yang lari bukan sedang menolak matanya dibersihkan — dia menolak tangan yang datang tiba-tiba ke arah wajah tanpa peringatan.
Saya tahu itu karena pernah duduk hampir setengah jam di lantai kamar, jam delapan malam, kipas berputar di sudut, sementara kucing saya sudah hilang ke kolong kasur. Yang kelihatan cuma ujung ekornya. Di tangan saya ada kapas bulat yang sudah dibasahi, dan saya merasa bodoh karena kalah dari sepotong kapas.
Malam itu saya berhenti mencoba. Kapasnya saya kembalikan ke lemari, bukan ke meja dekat saya, dan besoknya saya datang ke lantai yang sama dengan tangan kosong. Tidak ada yang dibersihkan. Tidak ada yang dipegang. Cuma tangan saya yang saya ulurkan, satu sentuhan pendek di atas kepala, lalu sepotong kecil makanan kering. Butuh beberapa hari sampai saya paham kenapa cara itu bekerja dan kenapa semua percobaan sebelumnya gagal.
Yang terbaca kucing sebelum kapasnya
Kucing tidak membaca kapas. Dia membaca awal urutannya: saya duduk dengan cara yang berbeda, laci terbuka, bunyi plastik, bahu saya naik, napas saya ditahan. Semua itu terjadi tiga detik sebelum kapas menyentuh bulu. Dalam tiga detik itu dia sudah punya cukup alasan untuk pergi.
Jadi hari-hari pertama bukan soal mata sama sekali. Yang saya latih adalah pembukaannya. Saya duduk di titik yang sama, tangan kosong, dan berhenti sebelum dia mulai gelisah. Kapasnya tetap di dalam lemari, dan itu bukan detail sepele — kalau kapas sudah ada di tangan saya, tangan saya bergerak seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu. Kucing melihat itu, dan dia benar.
Tiga hari pertama, hitungannya dalam detik
Hari pertama: duduk di lantai, tangan telungkup, biarkan dia mencium punggung tangan. Satu sentuhan di atas kepala, satu detik. Camilan. Selesai. Total di bawah dua menit, tiga sampai lima ulangan. Kalau dia pergi di tengah, sesi hari itu berakhir di situ, tidak ada pengejaran.
Hari kedua: sama, tapi sentuhannya bergeser ke arah pipi. Berhenti di tulang pipi. Jangan mendekat ke sudut mata dulu.
Hari ketiga: ujung ibu jari menyentuh dekat sudut mata, tanpa air, tanpa gosokan. Satu detik, lalu camilan.
Hari keempat atau kelima baru kapas kering muncul, dan belum menyentuh mata — dipegang di tangan yang lain, disentuhkan ke pipi, dibiarkan dia menciumnya. Hari berikutnya kapas lembap, satu mata, dua detik. Saya sengaja menyebut hari, bukan menit, karena jarak antar-langkah itulah yang sebenarnya bekerja.
Camilan harus masuk dalam satu sampai dua detik setelah sentuhan, bukan setelah semuanya selesai. Kalau jedanya lama, yang terekam bukan sentuhan yang enak, tapi camilan yang datang entah dari mana. Potongannya kecil saja, sebesar biji jagung, supaya dia tidak kenyang di tengah latihan.
Dua detik sudah dihitung berhasil
Saya dulu mengukur keberhasilan dari bersih atau tidaknya mata. Itu ukuran yang salah untuk tahap ini, dan justru bikin saya buru-buru. Ukuran yang saya pakai sekarang: apakah tubuhnya masih duduk di lantai, apakah telinganya tidak terlipat ke belakang, apakah ujung ekornya diam, apakah berat badannya tidak bergeser menjauh. Kalau empat hal itu masih aman, saya boleh menambah satu detik di sesi berikutnya. Kalau salah satu muncul, saya mundur satu langkah dan tidak mengulanginya hari itu.
Dua detik di hari pertama itu sudah berhasil. Terdengar terlalu kecil, tapi saya pernah kehilangan hampir dua minggu karena menuntut satu menit penuh di percobaan pertama.
Satu mata per sesi, dan itu bukan kemunduran
Rutinitas dua mata sekaligus umumnya terlalu berat di awal. Setelah mata pertama selesai, kucing sudah mengumpulkan cukup kejadian untuk hari itu. Mata satunya bisa besok, atau sesi berikutnya di hari yang sama kalau dia masih tenang dan masih mau datang sendiri.
Yang juga saya pelajari: kalau mata pertama berjalan buruk, jangan langsung mengejar mata kedua dengan harapan menyelamatkan sesi. Itu hampir selalu berakhir dengan dua kegagalan, bukan satu.
Jam dan tempat yang sama, setiap hari
Lantai yang sama, alas yang sama, jam yang sama. Saya pakai sudut ruang tengah setelah dia bangun dari tidur sore, karena di jam itu dia lambat dan tidak sedang ingin bermain. Saya juga menaruh piring kecil camilannya di titik itu, bukan di tempat lain.
Efeknya baru terasa setelah seminggu lebih: dia mulai datang sendiri ke alas itu sebelum saya sempat duduk. Di titik itu urutannya sudah berubah jadi tanda, bukan ancaman. Kalau sudah begini, memperpanjang durasi jadi jauh lebih mudah.
Yang membuat semuanya mundur satu minggu
Menahan tubuhnya di lantai. Mengangkatnya dengan kaki menggantung. Menjepit tengkuk. Menghampiri dia saat sedang bersembunyi di kolong. Semua itu memperbaiki satu malam dan merusak tiga sesi berikutnya, karena yang dia ingat bukan matanya yang bersih, tapi tangan yang lebih besar dan lebih kuat dari dia.
Satu hal yang sering terlewat: melakukannya berdua. Satu orang memegang, satu orang mengelap. Kucing membaca itu sebagai prosedur serius, dan beberapa hari kemudian dia mulai menghindar setiap kali dua orang duduk berdekatan.
Bunyi plastik kapas juga perlu dipindahkan. Saya pindahkan kapas ke toples kaca, karena suara pak plastik yang diremas sudah jadi bel penanda bahaya.
Jangan juga menjadwalkan latihan di hari yang sudah berat — setelah kucing kaget, setelah perjalanan ke dokter hewan, atau setelah ada tamu yang membuat rumah ramai.
Kalau kucing tetap menjauh, cek matanya dulu
Ada kalanya ini bukan soal latihan sama sekali. Mata yang menyipit terus, merah, bengkak, keluar cairan kuning atau hijau, atau kucing yang mengucek matanya dengan kaki dan menghindari cahaya — itu bukan penolakan yang bisa dilatih hilang. Begitu juga kalau sebelumnya dia biasa saja lalu tiba-tiba menolak, karena perubahan perilaku yang mendadak lebih sering berarti tidak nyaman daripada kebiasaan buruk.
Saya juga tidak menjanjikan semua kucing akhirnya suka dibersihkan matanya. Target realistisnya adalah dia duduk diam lima sampai sepuluh detik tanpa perlu dipegang. Suka atau tidak suka itu urusan dia.
Peralatan yang sebenarnya saya pakai
Kapas bulat padat, bukan yang berbulu longgar, karena seratnya tertinggal di bulu bawah mata dan bikin dia mengucek. Kain lembut untuk bagian luar. Air matang yang sudah hangat suam-suam kuku, bukan air kran dingin langsung — kedinginan di sekitar mata itu kaget tersendiri. Tisu kering untuk area sekitar, dan toples kaca untuk menyimpan kapas supaya tidak berisik.
Tidak ada obat tetes atau cairan apa pun yang saya masukkan tanpa anjuran dokter, karena mata bukan area untuk mencoba-coba.
Suatu sore, kalau dia sudah duduk lebih dulu di alas itu sebelum saya datang dengan tangan kosong, saya tahu latihannya sudah lewat tahap paling sulit. Kapasnya masih di lemari. Dan itu tidak masalah.