Mata kucing dibersihkan sebagai satu urutan tetap, bukan satu usapan cepat. Alat disiapkan sebelum kucing disentuh — kapas bulat atau kasa bebas serat, air matang hangat atau saline plain, satu lembar baru untuk tiap mata — kucing diposisikan supaya dia selalu punya ruang untuk mundur, lalu usapan dilakukan satu kali dari sudut dalam ke luar, bulu di sekitarnya dikeringkan, dan urutannya berhenti di situ. Yang membuat rutinitas pagi ini tenang bukan teknik mengusapnya, melainkan fakta bahwa langkahnya tidak pernah berubah dan ujungnya selalu jelas: lanjut besok, atau berhenti dan ke dokter hewan.

Saya menjalankan urutan ini di ujung meja makan, dekat jendela yang menghadap halaman tetangga. Pukul setengah tujuh pagi, cahaya dari samping itu bukan soal estetika. Dari arah itu krusta di sudut mata kelihatan sebagai bintik yang jelas, bukan bayangan yang membuat saya menebak-nebak. Kalau saya membersihkan mata kucing di bawah lampu ruang tengah, saya selalu mengusap dua kali terlalu banyak, karena saya tidak yakin apakah yang saya angkat sudah bersih atau belum.
Meja itu sengaja saya pilih karena tiga hal ada di jangkauan tangan: wadah kecil berisi air hangat, kapas, dan handuk kecil yang terlipat. Semuanya saya taruh di sana sebelum kucing saya angkat. Kucing yang sudah di pangkuan lalu saya tinggal untuk mengambil sesuatu akan memakai waktu itu untuk menilai situasi, dan biasanya penilaiannya adalah kabur.
Air dan kapas, disiapkan sebelum kucing disentuh
Airnya air matang yang saya hangatkan sebentar, suhunya kira-kira seperti air yang nyaman saya minum. Bukan panas, bukan dingin. Kalau saya tidak sempat merebus, saya pakai larutan saline steril tanpa tambahan apa pun — isinya cuma air dan garam. Saya tidak pakai air keran langsung, bukan karena saya hafal isi air keran di rumah, tapi karena air matang itu satu-satunya yang bisa saya pastikan bersih tanpa berasumsi.
Kapasnya saya peras dulu sampai tidak menetes. Ini sering dianggap remeh, padahal kapas yang masih meneteskan air akan mengirim air itu ke sudut mata, dan sudut mata yang basah adalah tempat krusta berikutnya dibentuk. Kalau ragu, peras sekali lagi.
Yang tidak ada di meja saya: tisu berparfum, kapas beralkohol, dan obat tetes mata manusia. Tiga benda itu tidak punya urusan di sekitar mata kucing, sekalipun ada di rumah dan sekalipun terlihat praktis.
Posisi: kucing di pangkuan, badan saya jadi dinding belakang
Kucing saya duduk di pangkuan, punggungnya menghadap dada saya. Bukan di meja, bukan dipegang dua orang. Cara ini membuat saya tidak perlu menahan apa pun. Tangan kiri saya ada di bawah dagunya, jempol dan telunjuk membentuk lengkungan longgar di sisi kepala — bukan cengkeraman. Kalau dia ingin memutar kepala, dia bisa. Yang saya cegah cuma gerakan mundur, dan itu pun cuma dengan berat badan saya yang ada di belakangnya.
Bedanya besar. Kucing yang merasa tidak punya jalan keluar akan melawan sepanjang proses. Kucing yang tahu dia bisa pergi biasanya tidak pergi, karena tidak ada yang perlu dilawan.
Satu usapan, satu arah, lalu berhenti
Usapannya dimulai dari sudut dalam mata, dekat hidung, lalu satu tarikan lurus ke arah luar. Satu kali. Tidak bolak-balik. Yang saya lewati adalah kelopak yang tertutup ringan, jadi yang bergesek sebenarnya bulu dan tepi kelopak, bukan bola mata.
Kalau krustanya belum terangkat penuh, saya tidak mengulang dengan kapas yang sama. Saya ambil kapas baru. Kapas yang sudah dipakai mengusap membawa kotoran yang baru saja diangkat, dan mengusapkannya kembali ke tempat yang sama hanya memindahkannya bolak-balik. Aturan ini yang paling sering saya lihat dilanggar orang: satu kapas, dua mata, tiga usapan. Hasilnya bukan mata yang bersih, tapi mata yang berpindah kotoran.
Mata kedua selalu dapat kapas baru. Tidak ada pengecualian, bahkan ketika mata pertama terlihat hampir bersih.
Bagian yang paling sering dilewatkan: mengeringkan bulu
Setelah usapan terakhir, saya tekan-tekan kasa kering atau ujung handuk di bulu sekitar mata, searah keluar juga. Tidak digosok. Kucing Persia dan bulu panjang lain menyimpan kelembapan di lipatan dan di balik bulu yang tebal, dan kelembapan yang tinggal di situ adalah bahan baku krusta pagi berikutnya. Jadi krusta yang muncul terus setiap hari sering bukan karena matanya bermasalah, tapi karena pembersihan kemarin berhenti satu langkah terlalu cepat.
Bagian ini biasanya yang paling tidak disukai kucing, karena tidak ada sensasi basah yang mengalihkan perhatian. Saya menyelesaikannya dalam dua atau tiga detik dan tidak memperpanjangnya.
Kalau kucing menegang, berhenti dulu, bukan tahan sampai selesai
Tanda-tandanya selalu sama dan selalu muncul berurutan: telinga mulai datar, badan mengeras, ekor berdenyut, kepala menoleh menjauh. Begitu satu saja muncul, saya berhenti. Tangan tetap di tempat, tidak saya angkat cepat-cepat, karena gerakan mendadak justru memulai ulang seluruh ketegangan. Saya hitung sampai tiga. Kalau badannya lunak lagi, saya lanjut. Kalau tidak, selesai untuk hari ini.
Mata yang belum sepenuhnya bersih hari ini jauh lebih murah harganya daripada kucing yang besok kabur begitu melihat kapas. Dan yang membuat besok lebih mudah bukan paksaan hari ini, tapi urutan yang sama, di tempat yang sama, dengan handuk yang sama, setiap pagi.
Seberapa sering, dan kenapa jawabannya berbeda
Untuk kucing berbulu panjang atau bermuka datar, saya membersihkan tiap pagi. Lipatan di sekitar mata menahan kelembapan lebih lama, dan krustanya terbentuk lebih cepat. Untuk kucing berbulu pendek yang tidak pernah berair, dua sampai tiga hari sekali sudah cukup, atau sekadarnya saat krusta pagi mulai terlihat.
Yang membuat frekuensinya bergeser bukan cuma panjang bulu. Kucing yang tidur di lantai berdebu, rumah yang lembap, dan kucing yang suka mengucek mata dengan kaki depan semuanya menambah kotoran lebih cepat. Kalau saya harus memilih satu patokan, patokannya bukan jumlah hari, tapi apakah krusta pagi muncul lagi dalam hitungan jam setelah dibersihkan.
Batas berhenti: kapan pembersihan rumah berakhir
Krusta pagi yang biasa bagi saya berbentuk kering, warnanya coklat muda sampai coklat tua, terangkat dengan satu usapan, dan tidak kembali dalam beberapa jam. Semua di luar itu, pembersihan rumah berhenti.
Yang saya hentikan dan saya catat: kotoran yang terus kembali meski sudah dibersihkan tiap hari, mata yang bengkak atau setengah tertutup, kucing yang mengerjapkan atau menyipitkan satu mata terus-menerus, warna kotoran yang kehijauan atau kekuningan dan kental, bau yang jelas, bulu sekitar mata yang basah permanen, benjolan kecil di tepi kelopak, atau kelopak yang tidak bisa terbuka penuh.
Saya bukan orang yang bisa menentukan apa penyebabnya, dan saya tidak mencoba menebak. Yang saya lakukan cuma dua: menghentikan pembersihan, dan menuliskan apa yang saya lihat — kapan mulai, mata mana, seberapa sering kotorannya kembali, apakah kucingnya mengucek. Itu pertanyaan pertama yang akan ditanya, dan saya lebih suka menjawabnya dengan catatan daripada dengan perkiraan.
Seluruh urutan ini, dari menyiapkan kapas sampai mengeringkan bulu, selesai dalam waktu kurang dari satu menit kalau kucingnya tenang. Sisa harinya tidak ada yang berubah. Besok pagi saya mengulang langkah yang persis sama, di meja yang sama, dengan cahaya yang sama dari samping jendela.