Jangan Masukkan Cotton Bud ke Telinga Kucing Outdoor

Jangan pernah memasukkan cotton bud ke dalam liang telinga kucing yang biasa keluar rumah. Bagian yang boleh disentuh hanya daun telinga dan lipatan luar yang terlihat mata, dibersihkan dengan kapas bulat yang dibasahi cairan pembersih telinga khusus kucing. Kotoran cokelat tipis pada kucing outdoor itu wajar. Yang membuatnya tidak wajar adalah warnanya gelap dan basah, baunya menyengat, telinganya merah atau bengkak, atau kotoran itu kembali penuh hanya dalam satu sampai dua hari setelah dibersihkan.

Aku belajar ini bukan dari buku. Aku belajar ini dari satu sore ketika aku duduk bersila di lantai, lampu ponsel menyorot ke telinga kucingku, dan tanganku sudah memegang cotton bud sebelum sempat berpikir.

Sebelum kapas keluar dari kotaknya

Kucing yang baru pulang dari luar membawa debu, pasir, dan kadang sisa air hujan di bulu telinganya. Kalau kamu berdiri dekat pintu saat dia masuk, kamu akan lihat dia menggoyangkan kepala sekali dua kali lalu duduk menjatuhkan badannya. Momen itu yang kupakai. Bukan saat dia sedang lari-lari atau main.

Aku duduk di lantai, bukan berdiri di atasnya. Kalau aku berdiri, dia harus mendongak, dan kucing yang harus mendongak itu kucing yang sedang menghitung jarak ke pintu.

Lalu cahaya. Sinar matahari dari jendela sudah cukup kalau hari terang. Kalau tidak, lampu ponsel di tangan kiri, telinga kucing di tangan kanan. Aku angkat daun telinganya pelan, tidak menarik ke atas, hanya membalikkannya sedikit supaya bagian dalam yang biasanya terlipat jadi kelihatan.

Yang kucari pertama bukan kotoran. Yang kucari pertama adalah warna kulitnya. Merah muda pucat, kering, tidak mengkilap karena lembap. Kucing outdoor yang sehat biasanya begitu, mungkin dengan lapisan tipis lilin kecokelatan di lekuk-lekuknya. Itu bukan kotoran yang harus dikejar sampai habis.

Ada satu kebiasaan yang mengubah caraku memeriksa: aku selalu membandingkan telinga kiri dan kanan. Telinga yang satu jadi patokan untuk yang lain. Kalau keduanya sama-sama berlapis lilin tipis, itu batas normal untuk kucing itu. Kalau yang kiri pucat dan kering sementara yang kanan merah dan berair, yang penting bukan seberapa banyak kotorannya, tapi kenapa keduanya berbeda.

Uji bau yang kulakukan tanpa menyentuh

Aku dekatkan hidung ke arah telinga, tidak masuk ke dalamnya, hanya di depan daun telinga, lalu tarik napas sekali. Bau normal itu samar, seperti bulu yang hangat. Kalau baunya manis asam, atau tajam seperti sesuatu yang membusuk, aku berhenti di situ. Tidak ada kapas, tidak ada cairan, tidak ada usaha membersihkan lebih keras.

Kapas bulat, bukan cotton bud

Ini bagian yang paling sering salah. Cotton bud dirancang untuk ukuran dan bentuk telinga manusia. Saluran telinga kucing tidak lurus. Dari luar dia turun dulu, lalu membelok ke arah wajah. Kamu tidak bisa melihat ke balik belokan itu, dan kalau kamu tidak bisa melihat ke mana kamu pergi, kamu tidak punya urusan di sana. Yang terjadi saat cotton bud masuk: kotoran yang seharusnya naik justru didorong makin dalam, kapasnya bisa lepas, dan lapisan tipis di dalam saluran mudah tergores.

Yang kupakai kapas bulat, yang pipih dan lebar. Cairan pembersih telinga untuk kucing, yang dibeli di toko hewan atau apotek hewan, bukan alkohol, bukan air sabun, bukan minyak dapur. Aku tuang sedikit ke kapas sampai lembap, bukan menetes.

Urutannya begini. Satu kapas untuk satu telinga, kapas baru untuk telinga satunya. Kapas yang sudah kotor tidak boleh dicelupkan lagi ke mulut botol, karena itu cara paling cepat mengubah botol bersih jadi kolam kuman.

Aku angkat daun telinga dengan lembut, lalu usap bagian dalam daun telinga dan lekukan yang kelihatan, dari arah dalam ke luar, satu arah. Aku tidak menggosok bolak-balik. Aku tidak menekan ujung jari ke dalam lekukan paling bawah; itu batas terakhir yang kuberani, dan hanya bagian yang bisa kulihat dengan mata.

Dua sampai tiga usapan. Lalu berhenti.

Biasanya kucing akan menggoyangkan kepala setelah itu, dan itu bagus. Kotoran lepas yang ada di luar terdorong keluar sendiri. Aku tunggu sebentar, lalu usap sekali lagi dengan kapas kering atau tisu untuk mengangkat sisa yang sudah keluar. Setelah itu selesai. Tidak ada sekali lagi biar bersih.

Kapan kapasnya kusimpan

Ada daftar yang tidak pernah kuganggu. Kalau salah satu dari ini muncul, aku berhenti membersihkan dan menelepon dokter hewan.

Telinganya merah atau bengkak, dan terasa lebih hangat dari telinga satunya saat punggung tanganku mendekat. Cairan yang keluar berwarna gelap, seperti bubuk kopi, atau kekuningan dan kental. Baunya kuat bahkan dari jarak satu jengkal. Kucingku meringis, menarik kepala, atau mengeong saat telinganya disentuh. Kepalanya miring terus ke satu sisi, bukan sekadar goyang sebentar. Dia menggaruk telinga itu tanpa henti, sampai bulu di belakang telinga menipis atau kulitnya lecet. Dia kehilangan keseimbangan atau jalannya miring.

Dan satu lagi yang paling sering kuabaikan dulu: kotorannya kembali penuh dalam satu sampai dua hari setelah dibersihkan.

Aku dulu mengira artinya aku kurang bersih. Jadi aku membersihkan lebih sering, kadang tiap dua hari. Yang terjadi justru sebaliknya. Telinga yang terus dibersihkan kehilangan lapisan lilin alami yang seharusnya melindunginya, kulitnya jadi mudah teriritasi, dan kucing mulai menghubungkan sentuhan di telinga dengan rasa tidak nyaman. Kotoran yang cepat kembali itu bukan undangan untuk membersihkan lebih rajin. Itu pertanyaan yang harus dijawab orang yang bisa melihat ke dalam saluran telinga dengan alat yang benar.

Seberapa sering sebenarnya

Untuk kucing outdoor dengan telinga yang tampak normal, jadwalku rendah. Sekali, paling sering dua kali sebulan, dan hanya kalau saat kuperiksa memang ada lapisan yang perlu diangkat. Kalau telinganya bersih dan kering, aku tidak membersihkan sama sekali. Melewatkan satu bulan bukan kelalaian.

Kalau kamu merasa harus membersihkan hampir tiap minggu supaya telinganya kelihatan bersih, itu bukan jadwal perawatan. Itu tanda ada sesuatu yang sedang berlangsung di dalam, dan yang perlu kamu lakukan bukan menambah frekuensi.

Ada pengecualian yang wajar. Kucing yang tidurnya di luar, atau yang tinggal di daerah berdebu, kadang butuh diperiksa lebih sering meski tidak dibersihkan lebih sering. Beberapa kucing memang memproduksi lilin lebih banyak karena bentuk telinganya, misalnya telinga yang terlipat, dan untuk kucing seperti itu frekuensinya ditentukan bersama dokter hewan, bukan dikira-kira sendiri.

Kalau kucingmu baru dimandikan atau kehujanan, bagian luar telinga cukup dikeringkan dengan tisu kering. Tidak perlu cairan, tidak perlu dikorek. Air yang masuk sedikit ke bagian luar biasanya keluar sendiri saat dia menggoyangkan kepala.

Yang sebenarnya kita kejar

Bukan telinga yang mengkilap dan benar-benar tanpa kotoran. Itu tidak realistis untuk kucing yang setiap hari keluar rumah, dan usaha mengejarnya justru yang bikin masalah.

Yang kita kejar itu telinga merah muda pucat yang saat kupangkal sedikit, kucingku tetap duduk, tetap makan, dan tidak buru-buru pergi. Kalau dia masih mau kutelungkupkan di pangkuan setelah selesai, itu tandanya aku tidak melakukannya terlalu keras, terlalu dalam, atau terlalu sering.

Kalau dia menghindar, aku berhenti dan coba lagi besok. Telinganya tidak akan rusak karena menunggu satu hari. Yang merusak itu tangan yang terburu-buru dan cotton bud yang masuk terlalu jauh.

Panduan ini hanya edukasi. Sebelum menindaklanjuti perawatan atau mengabaikan saran profesional, tanyakan dulu kepada dokter hewan.
Tangan Tenang

Penulis artikel

Tangan Tenang adalah lapisan orang yang menangani kucing rumahan dengan gerakan pelan dan sabar. Mereka terbiasa mengenalkan sisir, sampo, dan pembersih telinga lewat pengulangan, menjaga litter box tetap bersih, dan menyiapkan ruangan yang sejuk bagi kucing.

Tentang kami