Kucing senior tetap bisa dimandikan tanpa kedinginan kalau tiga hal ini benar sejak menit pertama: air hangat yang mendekati suhu tubuh, alas berdiri yang tidak licin di dasar baskom dangkal, dan pengeringan yang tuntas sebelum kucing keluar dari ruangan hangat. Jenis sampo bukan penentu di sini. Yang menentukan adalah apakah tubuhnya sempat kehilangan panas di tengah proses, karena bulu kucing tua lebih tipis, lapisan lemaknya menyusut, dan sirkulasinya lebih lambat. Air yang terasa sejuk di tangan bisa terasa dingin menusuk di punggungnya.

Saya berhenti menjadwalkan mandi penuh begitu kucing saya lewat usia dua belas tahun. Yang saya lakukan sekarang adalah mencuci bagian belakang — ekor, pinggul, kaki belakang — kira-kira dua sampai tiga minggu sekali, dan membiarkan sisanya kering. Kucing tua biasanya masih sanggup menjilat dada dan kaki depannya sendiri; yang mulai sulit dia jangkau justru bagian belakang. Jadi mandi penuh baru saya lakukan kalau bulunya benar-benar berminyak atau ada sesuatu yang menempel dan tidak bisa hilang hanya dengan dilap.
Sore itu saya duduk di lantai kamar mandi, punggung bersandar ke dinding, baskom dangkal di depan lutut. Tangan kanan saya celupkan sampai pergelangan, diamkan lima detik. Kalau masih betah dan terasa netral di kulit — tidak hangat menggigit, tidak juga menyegarkan — saya buang sedikit dan tambah air panas. Patokan yang saya pakai sekitar 37 sampai 38 derajat, sedekat mungkin dengan suhu badan kucing.
Ukur dengan pergelangan tangan, bukan telapak
Yang sering keliru: orang mengukur suhu air pakai telapak tangan. Ujung saraf di telapak jauh lebih tahan panas daripada kulit badan kucing yang berbulu tipis, jadi air yang terasa "pas" di telapak bisa terasa dingin di punggungnya. Saya selalu pakai pergelangan atau sisi dalam lengan bawah, dan saya biarkan di situ beberapa detik, bukan sekadar dicelup lalu diangkat.
Di sebelah baskom ada satu termos kecil berisi air hangat. Bukan untuk membilas sabun, tapi untuk menambah air begitu suhu baskom turun. Dalam lima menit, air di baskom dangkal memang cepat kehilangan hangatnya. Kalau saya harus beranjak ke wastafel untuk menambah air, kucing saya ditinggal setengah badan basah — dan justru itu momen paling rawan kedinginan.
Kamar mandinya sudah saya siapkan sebelum kucing masuk. Pintu ditutup, jendela ditutup, kipas angin mati, AC di kamar sebelah mati. Handuk saya taruh di dalam kamar mandi yang sama supaya ikut hangat, bukan di luar pintu. Kalau ubinnya terasa dingin, saya nyalakan lampu lebih awal — bukan untuk terang, tapi karena lampu di kamar mandi kecil itu ikut menghangatkan udara sedikit.
Semua yang saya butuhkan harus dalam jangkauan tangan. Begitu kucing basah, saya tidak boleh berdiri mencari handuk atau sabun. Aturan ini kedengaran sepele, tapi paling sering bikin sesi molor dan kucing menggigil.
Alas berdiri lebih penting daripada bentuk baskomnya
Kucing senior sering kaku di sendi. Kalau kakinya licin di dasar baskom, dia akan mencakar, mencoba melompat keluar, dan panik. Panik berarti sesi lebih lama, dan sesi lebih lama berarti lebih banyak panas yang hilang. Jadi dasar baskom saya beri mat karet anti selip, yang berlubang-lubang supaya air tetap bisa lewat. Kalau tidak ada, handuk kecil yang dilipat di dasar juga bisa, meski lebih cepat dingin dan harus diganti di tengah sesi.
Baskomnya dangkal, kira-kira setinggi mata kaki orang dewasa. Tinggi air hanya sampai menutupi telapak kaki kucing, tidak lebih. Ember tinggi atau bak besar membuat dia tidak bisa melihat keluar, dan kucing yang tidak bisa melihat keluar akan berusaha keluar dengan cara apa pun. Saya juga tidak mengisi penuh sekali jalan; saya mulai dengan air sedikit, lalu menambah sambil jalan.
Untuk kucing yang benar-benar tidak tahan air — sering terjadi pada kucing tua yang dulu tidak pernah dimandikan — saya kadang tidak memakai baskom sama sekali. Dia saya taruh di atas handuk kering di lantai, lalu bagian belakangnya saya basuh dengan spons lembap. Punggung dan perut tetap kering. Yang penting bagian kotor benar-benar bersih, bukan seluruh badan benar-benar basah.
Mulai dari ekor, kepala tetap kering
Pegangan saya satu tangan menopang di bawah dada, bukan mengangkat kaki depan, dan bukan memegang tengkuk. Kucing tua bisa punya masalah leher dan gigi; tengkuk bukan pegangan yang aman.
Saya mulai dari ekor dan kaki belakang, maju perlahan ke pinggul, lalu perut bagian bawah. Kepala saya tinggalkan paling akhir, dan sering tidak saya basahi sama sekali. Liang telinga dan mata tidak boleh kemasukan air. Untuk membersihkan wajah, cukup kain lembap yang diperas hampir kering, bukan siraman.
Urutan ini bukan tanpa alasan. Kucing senior biasanya kurang lentur menjangkau ekor dan pangkal paha saat menjilat diri, jadi di situlah minyak dan kotoran menumpuk. Punggung dan sisi badan sering masih bersih. Saya jarang butuh sampo lebih dari sedikit, dan hanya di area yang memang berminyak. Sebagian besar sesi saya selesai dalam lima sampai delapan menit.
Pengeringan adalah bagian yang menentukan
Di sinilah kebanyakan orang kehilangan hasil kerjanya. Saya menyiapkan dua handuk: satu untuk menyerap air awal, satu lagi yang benar-benar kering. Cara mengeringkan bukan digosok, tapi ditekan-tekan dan dipegang beberapa detik supaya air berpindah ke kain. Gosokan membuat bulu kusut dan kucing makin gelisah.
Setelah tidak ada lagi air yang menetes, dia saya pindahkan ke ruangan yang hangat, masih di atas handuk kering — jangan langsung ke lantai keramik, karena keramik menyedot panas dari perut dan telapak kakinya. Kalau perlu, saya keluarkan hair dryer, setel panas rendah, jaga jarak sekitar 20 sampai 30 sentimeter, dan terus saya gerakkan. Diarahkan diam ke wajah, telinga, atau satu titik terlalu lama, bukan cuma bikin kucing lari, tapi juga tidak baik untuk kulitnya yang sudah tipis. Kalau kucing saya takut suara hair dryer, saya lewati saja dan andalkan ruangan hangat plus handuk tambahan, dengan waktu tunggu lebih lama.
Titik buta yang wajib saya periksa dengan telapak tangan menempel ke kulit: ketiak, sela kaki belakang, pangkal ekor, dan perut bagian bawah. Kalau di situ masih terasa lembap dan dingin, berarti belum selesai. Setelahnya saya biarkan dia di ruangan hangat 20 sampai 30 menit, dan baru membuka pintu ke ruangan ber-AC setelah bulunya kering sampai ke kulit, bukan cuma kesat di permukaan.
Kapan saya berhenti dan tidak memaksakan
Tidak semua kucing senior bisa menyelesaikan mandi dalam satu sesi, dan itu bukan kegagalan. Kalau dia meronta keras, napasnya cepat seperti ngos-ngosan, atau mengeong terus dengan nada panik, saya berhenti. Bagian yang sudah basah saya keringkan, sisanya saya kerjakan hari lain. Saya pernah menyelesaikan hanya separuh badan, dan besoknya saya lanjutkan bagian yang tersisa.
Jujur, ada juga batas yang tidak bisa saya tangani sendiri. Kalau kulitnya bersisik, ada luka, bulu rontok setempat, gatal terus-menerus, atau bau yang tidak wajar meski baru dimandikan, itu bukan soal cara mandi. Itu urusan dokter hewan, dan saya tidak menutupinya dengan apa pun dari rumah. Kalau kucingnya punya gangguan jantung atau radang sendi yang berat, ada baiknya tanya dokter hewan dulu apakah mandi di rumah memang pilihan yang masuk akal untuknya — karena untuk sebagian kucing, cukup dilap bagian belakang dengan kain lembap tiap beberapa hari, dan itu sudah menyelesaikan masalahnya.