Kuku kucing senior justru perlu dipotong lebih sering, bukan lebih jarang. Pada usia lanjut kuku tetap tumbuh dari pangkalnya dan biasanya makin menebal serta rapuh, sementara kucing menggaruk jauh lebih sedikit sehingga keausan alami hampir tidak terjadi. Batas amannya tetap: potong hanya ujung bening kuku, jauh di depan daging kuku yang merah muda, dan kerjakan sedikit-sedikit dalam beberapa sesi. Kalau kuku sudah melengkung masuk ke bantalan kaki, ada darah, atau jari tampak bengkak, itu sudah bukan urusan memotong di rumah.
Saya mengerjakannya di lantai kamar, duduk bersila di atas matras tipis, bukan di meja. Kucing saya yang sudah lewat sebelas tahun tidak lagi suka ketinggian, dan kalau ia melompat turun dari meja, pendaratannya lebih berisiko daripada kukunya sendiri. Ia saya letakkan melintang di pangkuan, punggung menempel perut saya, kaki belakang menghadap ke luar. Lampu meja saya arahkan miring dari sisi kiri, dan ponsel saya taruh di lantai dengan senter menyala, karena dengan begitu saya bisa melihat ke dalam kuku tanpa harus menunduk sampai leher pegal.
Kaki depannya saya pegang dengan tangan kiri, bukan dengan menggenggam erat, hanya menopang di bawah pergelangan. Ibu jari saya tekan bantalan kakinya pelan-pelan dari bawah. Kukunya keluar. Dan setiap kali saya melihat kuku kucing tua, bentuknya selalu sedikit berbeda dari yang saya bayangkan: lebih tebal, seperti kulit almond kering, dengan ujung yang keruh kekuningan, bukan bening seperti kucing muda.
Kucing yang berhenti menggaruk justru menumpuk kuku
Kucing tua lebih banyak tidur, lebih jarang memanjat, dan sering kehilangan minat pada tiang garukan. Bisa karena sendi, bisa karena memang sudah tidak bermain sekuat dulu. Padahal menggaruk itulah yang mengikis kuku. Ketika kebiasaan itu berkurang, kuku tetap tumbuh dari pangkalnya setiap hari.
Lapisan luar kuku yang biasanya mengelupas sendiri juga tidak lagi terkelupas rapi. Pada kucing tua, sisa lapisan itu menumpuk jadi selubung yang tebal, kering, dan mudah pecah. Jadi kukunya memanjang dan menebal sekaligus, bukan salah satu saja.
Yang paling sering terlewat justru bukan panjangnya, tapi daging kukunya. Daging kuku mengisi ruang di dalam selubung kuku, dan ia ikut memanjang ke depan mengikuti kuku. Artinya, kalau saya menunda dua minggu, saya tidak menghemat satu sesi. Saya cuma memindahkan garis merahnya lebih dekat ke ujung, dan ruang aman untuk memotong jadi lebih sempit. Ini yang membuat saya memotong kuku kucing tua lebih rajin daripada kucing muda, bukan lebih jarang.
Melihat ke dalam kuku, bukan ke ujungnya
Pada kuku yang bening, daging kuku terlihat sebagai bayangan merah muda. Caranya sederhana: senter ponsel saya tempelkan di sisi kuku, bukan di depannya. Cahaya yang menembus dari samping memperlihatkan seberapa jauh merah muda itu masuk.
Kuku yang tebal dan keruh tidak mau bekerja sama. Warnanya sudah menguning, dan kadang ada lapisan pecah di tengahnya yang membuat bayangan merah muda terlihat lebih jauh dari sebenarnya. Untuk kuku seperti ini saya tidak memotong melintang di satu titik. Saya iris tipis, kira-kira satu milimeter, lalu berhenti dan melihat permukaan potongannya.
Kalau potongannya putih kapur seperti lilin, saya masih di selubung dan bisa lanjut. Kalau di tengahnya mulai muncul titik abu-abu gelap, itu tanda saya sudah dekat dengan daging kuku, dan saya berhenti di situ meskipun ujungnya belum serapi yang saya mau. Pada kuku hitam saya berhenti lebih cepat lagi, karena tidak ada warna yang bisa saya percaya selain putih kapur tadi.
Bagian yang pecah atau terkelupas tidak saya kelupas dengan tangan. Saya potong bersih di bawah bagian yang retak, karena kalau dibiarkan menggantung, ujung tajam itu yang nanti tersangkut di selimut dan bikin kucing menarik kakinya panik.
Alat yang salah membuat kuku tebal pecah
Gunting kuku manusia tidak cocok untuk kuku kucing, apalagi kuku yang sudah tebal dan rapuh. Mata pisaunya menghimpit, bukan memotong, dan selubung kuku yang kering mudah pecah memanjang. Kalau pecahnya sampai ke pangkal, urusannya jadi lain sama sekali.
Saya pakai gunting khusus kucing jenis gunting kecil dengan dua bilah, dan saya pastikan pisaunya tajam. Satu tekanan mantap, tegak lurus terhadap kuku. Kalau kucing menarik kakinya di tengah potongan, saya lepas, bukan menahan dan memutar. Putaran gunting di kuku yang sedang ditarik itulah yang bikin sakit, bukan potongannya.
Satu kaki, satu sesi, satu hadiah
Kucing tua punya kesabaran yang lebih pendek, dan sering juga sendi yang lebih kaku. Jadi saya tidak pernah menargetkan empat kaki dalam sekali duduk. Satu kaki per sesi sudah cukup. Besok kaki yang lain. Yang penting setiap sesi selesai dengan sesuatu yang enak, biasanya sepotong kecil makanan basah, diberikan langsung setelah gunting masuk kotak.
Kalau ia berjalan pergi di tengah sesi, saya biarkan. Mengejar kucing tua dengan gunting di tangan hanya mengajarkan satu hal: gunting itu sesuatu yang harus dihindari. Saya lebih memilih kehilangan satu kaki hari ini dan mendapatkannya besok.
Kuku depan biasanya perlu dipotong setiap dua sampai tiga minggu. Kuku belakang lebih jarang, karena lebih banyak aus saat berjalan. Tapi ada satu hal yang saya pelajari dari kucing tua: justru kuku belakang yang paling sering saya temukan melengkung ke dalam, karena ia lebih jarang bergerak dan keausannya makin sedikit. Jadi kuku belakang selalu saya periksa setiap kali, meskipun tidak selalu saya potong.
Bunyi klik di lantai keramik saat ia berjalan adalah alarm paling jujur. Begitu saya mendengarnya, saya tahu sudah waktunya, tanpa perlu menghitung minggu.
Yang tidak saya sentuh sama sekali
Ada beberapa hal yang membuat saya berhenti di depan gunting dan langsung mengangkat telepon. Kuku yang sudah melengkung dan menembus bantalan kaki, meskipun yang terlihat hanya ujungnya. Kuku yang berdarah, baik karena saya salah potong atau karena pecah sendiri. Jari yang bengkak, kemerahan, atau berbau.
Pada kasus seperti itu saya tidak menarik kuku yang menancap, tidak memotong lebih dalam untuk mencari ujungnya, dan tidak menempelkan apa pun. Semua itu pekerjaan dokter hewan, dan semakin cepat ditangani, semakin kecil kemungkinan kucing harus dirawat lebih lama.
Yang saya lakukan setelah semuanya selesai biasanya cuma satu: menutup gunting, mematikan senter ponsel, dan membiarkan kucing itu turun sendiri dari pangkuan. Kadang ia menjilat kaki depannya sebentar, lalu jalan ke mangkuk air. Tidak ada drama, tidak ada perjuangan panjang. Dan untuk kucing yang sudah sepuluh tahun lebih bersama saya, sesi setenang itu sendiri sudah cukup jadi ukuran bahwa saya memotongnya di batas yang benar.