Telinga kucing senior yang kelihatan kotor terus biasanya masih dalam batas normal kalau yang terlihat hanya lapisan tipis lilin berwarna cokelat muda sampai kekuningan, tidak berbau menyengat, tidak merah, dan tidak ada cairan yang keluar dari lipatannya. Yang menentukan bukan seberapa banyak kotorannya, tetapi tekstur, lokasi, dan ada tidaknya tanda lain di sekitarnya. Kalau kotorannya menggumpal gelap seperti ampas kopi, atau disertai bau, kemerahan, kucing sering geleng-geleng kepala, atau kepala miring, itu bukan alasan untuk membersihkan lebih sering; itu alasan untuk berhenti dan membawanya ke dokter hewan.

Sore itu saya duduk bersila di lantai dekat pintu geser, kucing saya yang sudah empat belas tahun menurut di pangkuan, dagunya di lengan saya. Lampu belum dinyalakan. Cahaya sore masuk miring dari samping, dan justru itu yang saya perlukan: dengan cahaya dari arah itu, isi lipatan telinganya terlihat jelas tanpa saya perlu menarik atau memutar apa pun.
Di sebelah saya sudah siap semangkuk kecil air hangat — hangat kuku, bukan panas — dan beberapa kapas bulat. Tidak ada cotton bud di situ. Saya sudah lama mencoret benda itu dari daftar, bukan karena pernah membuat kesalahan besar, tetapi karena pernah melihat betapa mudahnya ujung kapas mendorong kotoran lebih dalam. Di telinga sekecil itu, risiko menyentuh gendang telinga tidak sebanding dengan hasil yang didapat.
Sebelum kapas menyentuh apa pun, saya melihat dulu. Saya buka sedikit lipatan luar telinganya — bagian yang memang terlihat dari luar, bukan lorong yang menuju ke dalam — lalu memperhatikan warnanya. Sore itu cokelat muda, agak berminyak, menempel tipis, tidak menggumpal. Setelah itu saya mengendus dari dekat. Tidak ada apa-apa selain bau bulu yang hangat. Dua hal itu, warna dan bau, lebih menentukan bagi saya daripada seberapa banyak yang bisa saya angkat.
Baru setelah itu kapas lembap saya pakai. Satu kapas untuk satu lipatan, diputar pelan mengikuti arah lipatan keluar, tidak digosok. Kapasnya saya ganti begitu sudah berwarna, bukan dipakai bolak-balik. Patokan kedalaman saya bukan jari, tapi mata: begitu area itu masuk ke bagian yang tidak lagi saya lihat dari luar, saya berhenti. Sisa lilin yang tipis dan tidak berbau saya biarkan. Telinga kucing bukan piring yang harus bersih sampai mengkilap.
Kenapa kucing senior terlihat lebih kotor
Kucing yang menua biasanya merawat diri lebih sedikit. Leher yang kaku, sendi yang ngilu, atau perut yang bertambah berat membuat gerakan menjilat belakang kepala dan sekitar telinga jadi lebih jarang. Lilin telinga tetap diproduksi seperti biasa, hanya saja yang mengangkatnya berkurang. Jadi warnanya dan baunya tetap normal, jumlahnya saja yang menumpuk.
Penjelasan itu masuk akal, tapi saya tidak mau berhenti di situ. "Lebih jarang merawat diri" hanya menjelaskan penumpukan lilin di lipatan yang terlihat. Kalau yang muncul serpihan gelap dan kering, atau cairan, penjelasan itu tidak berlaku lagi.
Membedakan lilin normal dan yang bukan
Yang saya anggap normal: warna cokelat muda atau kekuningan, teksturnya seperti lilin tipis, licin, tidak berbau atau hanya bau samar seperti bulu, dan jumlahnya mirip di kedua telinga. Mudah terangkat dengan kapas lembap, dan tidak ada reaksi sakit saat disentuh.
Yang membuat saya berhenti dan tidak membersihkan lebih jauh:
- Gumpalan gelap, kering, berbutir, seperti ampas kopi.
- Cairan yang keluar sendiri, apalagi yang keruh atau berwarna kekuningan sampai kehijauan.
- Kerak yang menempel kuat, dengan kulit di bawahnya merah atau bengkak.
- Bau menyengat, beragi, atau bau yang jelas berbeda dari bau bulu.
- Kucing sering menggaruk telinga, menggelengkan kepala, atau menahan kepalanya miring.
- Menjadi kaku atau menarik diri begitu pangkal telinganya disentuh.
- Kotor hanya di satu telinga sementara yang lain bersih.
Poin terakhir itu sering diabaikan. Kalau kanan dan kiri sama-sama berisi lilin tipis, itu soal perawatan diri yang berkurang. Kalau hanya satu sisi yang basah dan bau sementara sisi lainnya bersih, itu bukan soal kurang bersih.
Batas yang saya pegang: hanya yang kelihatan
Saya tidak pernah menuangkan apa pun ke dalam telinga. Minyak kelapa, minyak zaitun, alkohol, hidrogen peroksida — semuanya saya hindari. Kulit di dalam saluran telinga tipis, dan alkohol atau hidrogen peroksida membuatnya kering dan perih, sementara minyak justru bisa memerangkap kotoran yang seharusnya keluar. Kalau air hangat saja tidak cukup mengangkat lilin yang menempel, saya basahi kapas dengan cairan pembersih telinga khusus hewan, itu pun di kapasnya, bukan dituang ke telinga.
Setelah selesai, lipatan saya keringkan dengan kapas kering. Di udara yang lembap, telinga yang dibiarkan basah setelah dibersihkan justru mengundang masalah.
Seberapa sering sebenarnya
Untuk kucing senior yang sehat, interval dua sampai empat minggu sekali sudah cukup, atau kapan pun lilin mulai terlihat jelas. Kalau saya merasa perlu membersihkan setiap beberapa hari karena selalu ada saja yang muncul, itu bukan tanda saya kurang rajin. Itu tanda saya perlu berhenti dan mencari tahu kenapa produksinya berubah.
Jebakan yang paling sering saya lihat adalah menjadikan pembersihan sebagai jawaban atas semua hal. Ada kotoran, bersihkan. Ada bau, bersihkan lebih sering. Padahal membersihkan lebih sering pada telinga yang sedang bermasalah hanya mengangkat kotoran di permukaan, mengiritasi kulit yang sudah meradang, dan menunda hal yang sebenarnya perlu: dilihat oleh yang punya alat untuk melihat ke dalam.
Kapan saya berhenti dan menelepon
Kalau muncul salah satu dari tanda di atas, kapas saya taruh, kandang transport saya keluarkan, dan saya menelepon. Bukan besok lusa sambil terus membersihkan. Kepala miring dan geleng-geleng yang tidak berhenti terutama tidak saya tunggu, karena itu sudah bukan soal kotoran lagi.
Saya juga mengakui satu hal: ada kalanya saya tidak yakin. Warnanya tidak jelas, baunya samar, dan telinga itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Dalam keadaan begitu pilihan saya sederhana — saya tidak membersihkan sama sekali dan membawanya diperiksa. Menunda sehari jauh lebih murah daripada salah membersihkan telinga yang ternyata sedang meradang, dan dari pengalaman saya, ketidakyakinan lebih sering benar daripada pura-pura yakin.
Setelah kapas terakhir
Sore itu saya tutup dengan melihat sekali lagi di cahaya yang sama, lalu kapasnya saya buang. Dia berdiri, menggoyangkan kepala sekali, dan langsung berjalan ke arah mangkuknya. Tidak ada garukan, tidak ada gelengan lagi, tidak ada bau yang tertinggal di tangan saya. Kalau setelah semua itu dia tetap santai dan minta makan, saya tahu sore itu berjalan normal — dan telinga yang "kotor terus" itu memang cuma lilin yang menunggu diangkat, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.