Kucing yang kabur setiap kali disisir hampir selalu bukan kucing yang membenci sisir, melainkan kucing yang belum pernah diajari bahwa sisir itu tidak berbahaya. Yang perlu dilatih adalah reaksinya terhadap sentuhan dan alat, bukan bulunya. Urutannya: kenalkan sisir tanpa menyentuh bulu, tempelkan sebentar ke pipi dan bahu, hitung 10 sampai 30 detik, lalu berhenti sebelum tanda kesal muncul. Ulangi pada jam yang sama setiap hari, dan dalam beberapa minggu sisiran bisa selesai tanpa kejar-kejaran.

Sore itu saya duduk bersila di lantai kamar dengan sisir di tangan kanan, dan kucing saya sudah hilang di bawah kasur sebelum benda itu menyentuh sehelai bulu pun. Anda mungkin pernah berdiri di posisi yang sama: lutut pegal, sisir masih bersih, kucing mengintip dari kolong dengan mata setengah menyipit. Yang akhirnya saya mengerti bukan cara memegang kucing lebih kencang, tapi cara membuat sesi sisir jadi terlalu singkat untuk ditolak.
Masalahnya reaksi, bukan bulu
Awalnya saya pikir sumber masalahnya ada di alat. Saya beli sisir bergigi logam, lalu sarung tangan karet, lalu sisir bergigi jarang. Tiap kali alatnya berganti, hasilnya sama: kucing menghilang sebelum sisir mendarat. Baru setelah saya memperhatikan lebih teliti, pemicunya bukan alatnya. Pemicunya urutan kejadian — saya beringsut mendekat, tangan turun ke arah punggung, badan saya membungkuk sedikit. Reaksi kabur itu muncul di detik ketiga, sebelum sisir menyentuh apa pun.
Itu sebenarnya kabar baik, walaupun waktu itu terasa menjengkelkan. Kalau masalahnya bulu kusut, kita butuh alat yang lebih baik. Kalau masalahnya reaksi, yang kita butuh waktu dan pengulangan, dan keduanya ada di tangan kita.
Mulai dari titik nol: sisir belum menyentuh bulu
Langkah pertama sama sekali tidak ada hubungannya dengan menyisir. Taruh sisir di lantai dekat tempat dia biasa merebah, biarkan dia mencium dan mengabaikannya selama satu dua hari. Lalu pegang sisir sambil duduk santai ketika dia sedang makan atau dibelai; belum ada bulu yang tersentuh. Baru setelah itu, sentuhkan punggung sisir ke pipi satu kali, hentikan, beri hadiah.
Urutan ini yang biasanya orang sebut memasangkan sisir dengan hal menyenangkan. Yang sering keliru adalah urutannya dibalik: orang langsung menyisir, lalu memberi hadiah setelah kucing kesal. Hadiah yang datang setelah pertengkaran kecil tidak memperbaiki apa pun.
Dari pipi, pindah ke bahu, lalu satu sapuan pendek di punggung atas. Satu sesi cukup 10 sampai 30 detik. Kalau ragu, ambil yang lebih pendek. Berhenti saat semuanya masih tenang, bukan setelah tanda kesal muncul.
Tanda berhenti yang harus dihafal
Ini bagian yang paling sering dilewatkan orang, dan ini yang menentukan berhasil atau tidak. Tanda pertama biasanya bukan lari. Tanda pertama adalah ujung ekor yang mulai bergerak cepat, telinga yang miring ke belakang, kulit punggung yang beriak seperti ada gelombang kecil di bawah bulu, pupil melebar, atau kepala yang menoleh cepat ke arah sisir. Kadang kucing berhenti mendengkur, dan itu sudah cukup jadi alasan untuk berhenti.
Kalau satu tanda muncul, hentikan di detik itu juga. Bukan satu sapuan lagi, bukan "sedikit lagi biar rata". Yang diingat kucing adalah kejadian terakhir dalam sesi itu, dan satu sapuan pemaksa menghapus lima belas detik yang tenang.
Urutan area, dari yang paling toleran
Pipi dan dagu dulu, lalu bahu, lalu punggung atas. Area itu biasanya paling toleran karena kucing sendiri menggosokkan wajahnya ke sudut meja dan kaki kursi.
Perut, kaki belakang, ekor, dan pangkal ekor baru masuk minggu ketiga atau keempat, dan sering hanya setengah jalan. Sebagian kucing tidak pernah mau perutnya disisir, dan itu bukan kegagalan. Untuk bulu panjang, bagian ketiak dan belakang kaki adalah tempat kusut pertama muncul, jadi area itu tetap perlu disentuh perlahan, walau hanya beberapa detik.
Kalau dia pergi, biarkan pergi
Aturan ini terasa salah waktu pertama kali saya dengar. Naluri kita bilang: kalau dia pergi sekarang, besok dia akan lari lebih cepat. Kenyataannya kebalikannya. Ketika kucing diizinkan berjalan pergi setelah lima belas detik yang tenang, dia belajar bahwa dia punya kendali atas sesi itu — dan kucing yang merasa punya kendali lebih berani mendekat lain kali.
Yang saya lakukan dulu justru sebaliknya: saya kejar sampai kolong kasur, saya keluarkan dengan handuk, saya selesaikan sisiran. Sesi itu berhasil secara hitungan, tapi sesi besoknya dimulai dari titik yang lebih buruk. Jangan menjepit tengkuk, jangan memeluk dengan erat, jangan menahan dengan selimut. Semua itu mengembalikan pelajaran lama bahwa tangan itu berbahaya.
Satu orang lagi mempercepat prosesnya
Kalau di rumah ada orang kedua, pakai. Satu orang duduk di depan kucing dengan potongan hadiah di depan hidungnya, sementara yang lain menyisir dua atau tiga sapuan saja, lalu berhenti. Hadiahnya diberikan di depan, bukan sebagai damai setelah selesai.
Dengan cara ini kucing tidak perlu memutuskan antara kabur atau menerima sisir; dia sedang mengunyah sesuatu dan sisiran lewat begitu saja. Di pengalaman saya, ini memangkas waktu belajar dari hitungan bulan jadi hitungan minggu, terutama untuk kucing yang sudah pernah punya pengalaman buruk dengan sisir.
Ukur dengan detik, bukan dengan bulu
Selama dua minggu pertama, lupakan tumpukan bulu di sisir. Yang dihitung adalah detik. Hari pertama mungkin tiga detik sebelum dia pergi. Hari kelima sepuluh detik. Hari kedua belas tiga puluh detik yang tenang di satu area. Itu kemajuan, meskipun bulu yang keluar baru sepertiga badan.
Kalau patokannya jumlah bulu, kita akan cenderung memaksa "sedikit lagi" agar cepat selesai, dan justru mundur. Kalau patokannya detik, kita menang setiap kali kucing bertahan lebih lama daripada kemarin.
Jam yang sama, tempat yang sama
Kucing belajar dari pola, bukan dari niat baik kita. Sesi singkat setiap hari pada jam yang sama lebih cepat jadi kebiasaan daripada sesi panjang sekali seminggu. Pilih waktu ketika dia sudah kenyang dan mulai mengantuk; kalau dia biasa tidur siang di dekat jendela, di situ tempatnya. Posisi duduk, bau ruangan, dan suara sisir yang sama lama-lama jadi tanda bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Batas yang perlu diakui
Tidak semua kucing jadi suka disisir. Sebagian hanya toleran, dan itu cukup. Kalau ada gumpalan keras yang menempel dekat kulit, jangan dipaksa lewat; kalau ditarik, kulit ikut tertarik dan kucing akan mengingatnya lama. Gumpalan seperti itu lebih baik ditangani groomer atau dokter hewan, dan kadang memang harus dicukur.
Kalau kucing yang biasanya tenang tiba-tiba menghindar, atau ada luka, kerak, kulit kemerahan, atau benjolan di bawah bulu, itu bukan soal latihan lagi. Begitu juga kalau setelah tiga sampai empat minggu rutin tidak ada kemajuan sama sekali — biasanya jawabannya bukan latihan lebih keras, tapi mundur satu langkah karena langkahnya terlalu cepat.
Sekarang sisir itu masih saya simpan di lantai dekat tempat dia tidur, bukan di lemari. Kadang dia merebah di sebelahnya sendiri. Sisiran lengkap jarang lebih dari dua menit, dan tidak ada yang perlu dikejar.