Kotoran telinga kucing masih tergolong normal kalau yang tersisa di kapas hanyalah noda tipis berwarna cokelat muda atau kekuningan seperti amber, berasal dari lipatan luar yang terlihat, tidak berbau, dan jumlahnya tidak lebih dari selebar ujung kelingking. Patokan yang paling bisa dipegang bukan bentuk telinganya, melainkan kapas yang baru selesai dipakai: kapas boleh ternoda, boleh sedikit berminyak, tapi tidak boleh basah, tidak boleh berwarna hitam atau berbutir seperti ampas, dan tidak boleh berbau menyengat. Begitu salah satu dari tiga hal itu muncul, atau kucing menggeleng-gelengkan kepala dan menjauh saat pangkal telinganya tersentuh, menyeka di rumah berhenti sampai di titik itu dan kucing dibawa ke dokter hewan.

Saya biasa melakukannya sambil duduk bersila di lantai kamar, sekitar jam sembilan malam, setelah kucing saya selesai makan dan mulai mengantuk. Lampu meja saya arahkan ke lantai, bukan ke wajahnya. Di dekat lutut sudah siap satu kapas bulat yang dibasahi air hangat lalu diperas sampai benar-benar tidak menetes, satu kapas kering, dan handuk kecil yang dilipat jadi bantalan. Kucingnya saya taruh di pangkuan dengan badan menghadap ke samping, jadi sisi kepalanya yang saya kerjakan ada tepat di bawah tangan saya, bukan di depan matanya.
Yang saya pegang lebih dulu adalah ujung daun telinganya, bukan pangkalnya. Ibu jari dan telunjuk menjepit ujung yang tipis itu, saya lipat sedikit ke belakang sampai lipatan dalamnya kelihatan, lalu satu kali usap dari dalam ke luar memakai sisi kapas yang basah. Satu sisi kapas untuk satu telinga, dan setelah itu kapasnya saya angkat ke arah lampu.
Yang dibaca dari kapas, bukan dari telinga
Di bawah lampu, kapas normal terlihat seperti ini: ada garis atau bercak tipis kecokelatan yang menempel di serat, kadang agak kekuningan, kadang lebih ke abu-abu tua kalau kucing baru saja bermain di lantai berdebu. Pinggir kapasnya tetap terang. Kalau saya gosok pelan di antara ibu jari dan telunjuk, sisanya terasa seperti lilin tipis, bukan remah. Dan baunya, kalau kapasnya saya dekatkan ke hidung dari jarak biasa, hampir tidak ada. Bukan wangi, memang, tapi tidak juga menusuk.
Kapas yang bermasalah biasanya terlihat berbeda dari arah mana pun. Warnanya jauh lebih gelap, hampir hitam, atau cokelat tua merata, dan teksturnya tidak lagi menempel di serat seperti lilin, tapi berbutir dan berjatuhan begitu kapasnya digerakkan. Ada juga yang setelah diangkat masih terasa lembap di tangan, padahal bagian luar telinganya sudah saya keringkan. Tapi yang paling gampang dikenali bukan warnanya, justru baunya. Kalau saya sudah bisa mencium sesuatu sambil tetap duduk tegak, tanpa mendekatkan kapas ke wajah, itu sudah terlalu banyak.
Sejak awal saya membiasakan diri menyimpan patokan per telinga, bukan patokan umum. Telinga kiri kucing saya memang selalu menghasilkan noda yang sedikit lebih jelas daripada telinga kanannya, dan itu sudah begitu sejak dulu. Kalau saya membandingkan kiri dengan kanan, saya akan panik tiap minggu tanpa alasan. Yang saya bandingkan justru kapas minggu ini dengan kapas minggu lalu, untuk telinga yang sama.
Saya memeriksa seminggu sekali, biasanya di hari yang sama, dan menyeka hanya kalau ada kotoran yang benar-benar terlihat. Kalau lipatannya bersih, kapasnya saya lipat dan langsung buang tanpa menyentuhkan sisi bersihnya ke telinga. Kucing yang tidak pernah punya masalah telinga tidak perlu dibersihkan rutin hanya karena sudah waktunya. Mengusap lipatan yang bersih justru membuat saya kehilangan pembanding untuk minggu berikutnya, dan itu kerugian yang tidak kelihatan sampai saya butuh.
Air hangat saja, tidak ada campuran apa pun. Saya lebih memilih kapas bulat sekali pakai daripada kain, karena kain menyimpan sisa dari telinga sebelumnya. Kapas bertangkai tidak pernah masuk ke lubang telinga, dan ujungnya pun saya hindari untuk dimasukkan. Lubang telinga kucing menjorok ke bawah dan ke dalam, jadi "menyeka dalam-dalam" sebenarnya cuma mendorong apa pun yang ada di situ semakin masuk.
Kapan kapasnya berhenti dan kucingnya diperiksa
Selain kapas, ada satu hal yang saya perhatikan di tangan saya sendiri. Kalau kucing saya diam saja ketika pangkal telinganya saya raba pelan dengan ujung jari, dan kulit di situ terasa sama hangatnya dengan bagian kepala sebelahnya, saya lanjut. Kalau dia menyentak, mengejar tangan saya, atau sisi telinganya terasa lebih hangat dari yang lain dan warnanya lebih merah dari biasanya, saya hentikan hari itu juga. Bengkak, luka kecil, atau kerak yang menempel di lipatan juga bukan sesuatu yang saya coba bersihkan sendiri. Dan kucing yang terus menggelengkan kepala setelah telinganya diseka bukan kucing yang perlu diseka lebih sering; itu kucing yang perlu diperiksa.
Kalau akhirnya ke dokter hewan, yang saya bawa bukan cuma kucingnya. Saya bawa foto kapas terakhir di bawah lampu, saya sebutkan sisi mana, sejak kapan, dan apa yang berubah dari biasanya. Dokter hewan tidak bisa melihat kapas yang sudah saya buang, dan "kelihatannya agak hitam" jauh lebih kabur daripada satu foto.
Ada satu hal yang saya sadari agak terlambat: kucing yang tinggal di dalam rumah dan jarang keluar biasanya menghasilkan noda yang sangat sedikit, sementara kucing yang suka main di halaman bisa membawa lebih banyak debu ke lipatan telinganya setelah hari yang berdebu. Noda yang muncul setelah hari seperti itu bukan patokan. Yang jadi patokan adalah kapas di hari biasa, saat tidak ada apa-apa yang istimewa.
Yang saya pelajari pelan-pelan bukan cara menyeka yang benar, tapi cara berhenti. Menyeka telinga kucing itu gampang; yang sulit adalah memutuskan kapan tidak melakukannya sama sekali. Kapas yang saya pakai bukan alat bersih-bersih. Fungsinya lebih mirip kertas catatan: minggu ini sama dengan minggu lalu berarti aman, minggu ini berbeda berarti saya tutup kapasnya dan menghubungi dokter hewan.