Anak kucing yang takut air dimandikan di baskom dangkal dengan air hangat kuku setinggi dua sampai tiga sentimeter, cukup untuk keempat kakinya menapak rata. Tubuhnya dibasahi satu bagian pada satu waktu, kepalanya tidak pernah masuk air, dan sesinya ditutup dengan handuk sebelum dia sempat panik. Ukuran keberhasilan bukan seberapa bersih dia keluar dari baskom, tapi apakah dia masih mau mendekat setelahnya.

Aku menyiapkan semuanya dulu sebelum kucingnya masuk kamar mandi. Baskom plastik dangkal, dua handuk bersih, satu waslap, satu gelas plastik kecil. Semua sudah di lantai, semua bisa kujangkau tanpa berdiri. Anak kucing yang gelisah tidak bisa ditunggu sementara aku menggeledah lemari cari handuk kedua.
Airnya dulu, bukan kucingnya
Aku selalu mengisi air sebelum membawa kucingnya masuk. Kalau air dituang setelah dia ada di dalam baskom, bunyi cipratannya jadi kejutan pertama, dan kejutan pertama biasanya menentukan sisa sesinya.
Suhunya hangat kuku. Kalau pergelangan tanganku yang masuk duluan terasa netral, tidak panas tidak dingin, itu sudah benar. Air yang terasa pas di tangan orang dewasa bisa terasa panas untuk badan sekecil itu, jadi aku cenderung ke sisi yang lebih sejuk.
Kedalamannya dua sampai tiga sentimeter. Cukup untuk kakinya menapak rata di dasar baskom, tidak cukup untuk dia harus berenang atau mengangkat kepala. Kucing yang harus mengapung akan panik, dan panik itu menular ke hari mandi berikutnya — bukan cuma ke sesi hari ini.
Aku juga menyiapkan gelas plastik kecil. Ini alat yang paling sering dilewatkan orang, padahal paling menentukan. Airnya tidak kusiram dari gayung, tidak kutaruh di bawah keran. Aku menuang pelan-pelan dari gelas, dari arah ekor menuju leher, sambil tangan yang lain menahan badannya. Aliran kecil tidak bikin kaget. Aliran besar bikin dia lompat, dan begitu dia lompat sekali, seluruh rencananya berubah.
Satu bagian, satu waktu
Urutannya begini: kaki belakang dan ekor, lalu punggung, lalu perut dan dada, terakhir kaki depan. Kepala tidak pernah ikut masuk hitungan.
Setiap bagian disabuni sedikit, digosok dengan ujung jari — bukan kuku, bukan sikat — lalu dibilas sampai tidak ada sisa sabun. Setelah satu bagian selesai, tanganku berhenti. Telapak tangan kutaruh di punggungnya, diam dua tiga detik, baru lanjut ke bagian berikutnya.
Jeda itu terasa seperti buang waktu kalau kita sedang buru-buru. Tapi di situ kucingnya menurunkan kewaspadaan. Aku belajar itu setelah beberapa kali gagal: sesi yang digas sampai selesai dalam dua menit memang cepat, tapi kucingnya jadi tidak mau didekatku selama dua hari sesudahnya. Cepat selesai dan selesai dengan tenang itu dua hal yang berbeda.
Soal sabun: sedikit saja, dan yang memang untuk kucing. Untuk anak kucing yang belum pernah mandi, sering kali air hangat plus gosokan tangan sudah cukup. Sabun lebih kubutuhkan di bagian yang benar-benar kotor, biasanya kaki belakang dan sekitar ekor, terutama kalau dia masih belajar pakai litter box.
Kepala tetap kering, seterusnya
Kepala tidak perlu kena air sama sekali, bahkan tidak perlu disiram. Wajah, dagu, dan belakang telinga cukup diusap dengan waslap yang sudah diperas sampai tidak menetes.
Sisa air di telinga dan hidung bukan cuma bikin tidak nyaman. Bagian itu yang paling sulit kering, dan lembap yang dibiarkan di situ bikin dia gelisah seharian.
Cara memegangnya juga ikut menjaga kepala. Telapak tanganku di bawah dada, jari-jari menopang, badan bagian belakang ditahan lengan. Posisi ini membuat kepalanya otomatis lebih tinggi dari permukaan air. Kalau dia menoleh ke samping, airnya tidak naik ke telinga.
Aku tidak pernah memasukkan apa pun ke liang telinga. Kalau ada cipratan yang sampai ke bagian luar, cukup diusap dengan ujung waslap. Liang telinga bukan area yang kusentuh sendiri di rumah.
Yang mengakhiri sesi adalah handuk
Begitu pembilasan terakhir selesai, kucingnya langsung keluar dari baskom dan masuk ke handuk pertama. Handuknya membungkus badan, aku tekan-tekan pelan, bukan digosok. Handuk pertama menyerap air terbanyak, jadi aku tidak menunggu sampai dia basah kuyup di situ. Begitu handuk mulai lembap, aku ganti ke handuk kedua dan lanjut sampai benar-benar kering, terutama perut, ketiak kaki, dan pangkal ekor. Daerah itu yang paling lama kering dan paling cepat bikin dia kedinginan.
Anak kucing kehilangan panas badan jauh lebih cepat daripada kucing dewasa, dan badannya kecil jadi permukaan yang harus dihangatkan juga kecil. Jadi bagian basahnya sebaiknya singkat, dan bagian mengeringkannya yang panjang. Bukan sebaliknya. Banyak orang membalik urutan itu tanpa sadar.
Soal pengering rambut, aku jarang memakainya untuk anak kucing. Bunyinya sering lebih menakutkan daripada airnya sendiri, dan kalau dia sudah tenang, membunyikan alat itu justru membongkar semuanya. Kalau memang ruangan benar-benar lembap dan bulunya tebal, aku pakai setelan panas paling rendah, kecepatan paling rendah, jarak jauh, dan tidak pernah ke arah kepala atau telinga.
Setelah kering, dia kutaruh di ruangan yang hangat dan tidak berangin. Bukan di ruangan ber-AC, bukan dekat jendela yang terbuka.
Tanda berhenti yang tidak bisa ditawar
Menggigil. Itu bukan tanda dia butuh air lebih hangat. Itu tanda sesinya sudah lewat. Bungkus, tekan-tekan dengan handuk, selesai untuk hari ini.
Tanda lain: meronta terus tanpa jeda meski sudah kutahan, mencakar apa saja termasuk tanganku, mengeong tanpa henti dengan nada tinggi, telinga rata ke belakang, mata membelalak, napas cepat. Kalau salah satu muncul, aku tidak menawar. Handuk, angkat, keluar.
Bedanya dengan protes biasa itu pada jedanya. Anak kucing yang cuma tidak suka biasanya berhenti sebentar saat aku diam, lalu mulai lagi. Yang sudah lewat batas tidak pernah berhenti, dan nada suaranya berubah.
Sehari sebelum hari mandi
Bagian ini yang sering diabaikan orang, padahal pengaruhnya paling besar. Anak kucing yang baru pertama kali ketemu air akan jauh lebih tenang kalau sebelumnya dia sudah biasa dipegang.
Aku biasakan lima menit sehari, tanpa air sama sekali. Memegang kakinya satu-satu, membuka bulu di perutnya, menyentuh ujung telinga, mengangkat dagunya. Dilakukan sambil santai, bukan sebagai latihan yang tegang. Kadang sambil dia duduk di pangkuanku setelah makan.
Untuk kotoran harian, waslap hangat yang diperas sudah menyelesaikan sebagian besar masalah. Debu, sisa makanan, bahkan bagian belakang yang kotor biasanya beres dengan itu. Mandi penuh dengan baskom sebenarnya jarang dibutuhkan kalau kucingnya kucing rumahan yang tidak keluar. Jadi hari mandi itu bukan agenda rutin mingguan, tapi kejadian sesekali yang disiapkan.
Dan kalau akhirnya batal
Kalau setelah semua persiapan dia tetap benar-benar panik, mandi hari itu batal. Itu bukan kegagalan.
Aku pernah sekali memaksakan sesi seperti itu. Butuh hampir dua minggu sebelum kucing itu mau duduk tenang di pangkuanku lagi, dan waktu itu kujalani tanpa perlu. Sejak itu, aturannya jelas: satu kali panik berat, berhenti, dan besok-besok kita mulai dari waslap lagi.
Ada juga kondisi yang bikin aku tidak memandikan sama sekali. Anak kucing yang sedang tidak fit, baru selesai vaksin, sedang diare, atau baru beberapa hari di rumah, kutunggu dulu. Kalau ada masalah kulit atau kutu, itu bukan urusan baskom di rumah — itu yang kutanyakan ke dokter hewan.
Bagian tersulit dari memandikan anak kucing bukan membuatnya bersih. Itu soal membuat dia percaya bahwa baskom bukan tempat yang buruk. Dan kepercayaan itu dibangun di hari-hari ketika tidak ada air sama sekali.