Anak kucing tidak menjadi tenang karena digendong lama. Yang membuatnya tenang adalah sentuhan pendek satu sampai dua menit, diulang hampir setiap hari, dan setiap sesi boleh dia akhiri sendiri begitu dia mau. Digendong lama dengan pegangan kuat justru mengajarkan sebaliknya: satu-satunya jalan keluar dari tangan manusia adalah meronta, dan rontaan yang paling keras adalah yang berhasil.

Saya belajar ini dengan cara yang agak memalukan. Dulu hampir tiap sore saya memangku anak kucing di dada sambil menghitung sampai lima puluh, karena saya pikir dia harus dibiasakan dulu supaya anteng waktu mandi dan potong kuku nanti. Yang saya ingat dari masa itu bukan rasa sayang, tapi ujung ekornya yang bergerak cepat dan kuku depannya yang menancap di kaus saya. Setelah saya turunkan, dia tidak pergi jauh. Dia duduk satu meter dari saya, membelakangi, lalu menjilat bulu dadanya lama sekali. Waktu itu saya tidak tahu artinya. Sekarang saya tahu: itu kucing yang sedang mengembalikan rasa amannya sendiri, dan saya yang membuatnya harus melakukannya.
Yang saya lihat di menit pertama
Kalau kamu duduk bersila di lantai dan membiarkan anak kucing datang sendiri, ada urutan tanda yang muncul sebelum dia benar-benar berontak. Saya selalu memperhatikan ini dulu sebelum menyentuh apa pun.
Ujung ekornya bergerak lebih dulu, cepat dan pendek-pendek. Lalu telinganya berputar sedikit ke samping, bukan ke belakang. Kulit punggungnya berkedut, seperti ada lalat yang mengganggu padahal tidak ada. Napasnya naik, terlihat dari perut kecilnya yang bergerak lebih cepat. Yang paling jelas: dia berhenti menatap tangan saya dan mulai menatap lantai di sampingnya, ke arah jalan keluar.
Begitu matanya ke sana, sesi saya selesai. Bukan karena saya gagal, tapi karena kalau saya lanjut dua detik lagi, saya sedang mengajarinya bahwa tanda halus tidak dihargai, dan dia harus belajar meronta supaya didengar.
Satu sampai dua menit, dan tidak lebih
Perbedaan terbesar yang saya rasakan bukan dari teknik, tapi dari takaran waktu. Lima belas menit sekali seminggu hasilnya jauh lebih buruk daripada dua menit tiap hari. Anak kucing membangun toleransi dari pengulangan, bukan dari durasi. Tubuhnya mengenali pola; sekali seminggu terlalu jarang untuk jadi pola.
Saya biasanya menyelipkan sesi ini di jam yang sama, di tempat yang sama, saat dia setengah mengantuk setelah makan. Kalau dia sedang lari-lari, saya tidak memaksakan. Kucing yang sedang dalam mode bermain akan membaca tangan saya sebagai mainan, dan itu bukan sesi yang saya mau.
Mulai dari dagu, bukan dari kaki
Saya mulai dari tempat yang sudah dia terima: dagu, lalu bawah dagu, lalu belakang leher, lalu bahu. Kalau tiga hari berturut-turut dia tidak pergi saat bagian itu disentuh, saya geser sedikit ke samping badan. Kalau dia diam saja, baru saya sentuh kaki depan, satu detik, lalu berhenti.
Satu hal yang saya sesali karena baru sadar belakangan: jangan pernah menyentuh kaki hanya pada hari kamu mau memotong kuku. Kalau telapak kaki selalu muncul bersamaan dengan gunting, tangan kamu akan jadi pertanda gunting. Sentuh kakinya di hari-hari yang tidak ada apa-apa. Tidak dipotong, tidak disikat, tidak dibersihkan. Cuma disentuh, lalu diberi hadiah, lalu selesai.
Hal yang sama berlaku untuk telinga. Untuk membiasakan bersih-bersih telinga, saya tidak langsung masuk ke lubang telinga. Saya pegang dulu pangkal telinganya, beberapa hari. Setelah itu baru lipatan luarnya, dengan kapas yang sudah diperas supaya tidak menetes. Bagian dalam hanya kalau dia sudah tenang dengan yang luar, dan tetap saja cuma sebentar.
Kalau dia pergi, biarkan
Ini bagian yang paling berat untuk ditahan, terutama kalau kamu sedang buru-buru. Anak kucing berjalan keluar dari pangkuanmu bukan kegagalan sesi. Itu bagian dari sesi itu.
Yang saya lakukan: tangan saya diam di tempatnya, tidak mengejar, tidak menyambar, tidak menggendongnya balik. Saya tidak bergerak cepat dan tidak mengucapkan apa-apa. Saya biarkan dia keluar dari ruangan kalau memang mau. Besok saya mulai lagi dari titik yang sama, atau kalau dia tampak ragu, saya mundur satu langkah.
Yang saya perhatikan setelah beberapa minggu: anak kucing yang punya jalan keluar justru lebih jarang memakainya. Yang tidak punya jalan keluar akan menghabiskan seluruh energinya untuk mencari jalan keluar itu, dan itu yang jadi kebiasaan sampai dewasa.
Satu hal yang saya lihat pada teman sendiri: mereka menggenggam anak kucing dengan handuk karena takut digigit, lalu heran kenapa kucingnya makin liar saat besar. Handuk tidak salah sebagai pertolongan darurat waktu kucingnya benar-benar panik. Tapi sebagai cara harian, dia mengajarkan hal yang persis kebalikan dari yang kamu mau.
Hadiahnya harus datang segera
Hadiah kecil yang datang dalam satu sampai dua detik setelah sentuhan itu yang membangun asosiasinya. Bukan hadiah di akhir sesi. Kalau kamu memberi potongan ayam rebus setelah semuanya selesai, yang diasosiasikan kucing bukan tanganmu, tapi selesainya acara.
Takaran saya kecil saja: sepotong sekecil ujung jari, atau sejumput makanan basah di sendok. Kalau dia sudah makan besar sebelum sesi, hadiahnya tidak akan berarti, dan seluruh sesi jadi latihan kosong. Jadi saya lebih suka sesi ini sebelum makan, bukan sesudah.
Dan elusan bukan hadiah kalau elusan itu sendiri yang membuatnya tidak nyaman. Hadiah harus sesuatu yang jelas: makanan, dan langsung.
Ukurannya bukan diam, tapi mau kembali
Cara menilai kemajuan yang saya pakai sekarang bukan seberapa lama dia tahan diam. Saya lihat besok: apakah dia datang sendiri ke tempat sesi, atau setidaknya tetap di ruangan yang sama saat saya duduk di lantai?
Ada minggu-minggu di mana anak kucing saya diam sepuluh detik, dan saya senang. Ada minggu di mana dia diam tiga puluh detik tapi besoknya bersembunyi di kolong, dan itu sebenarnya kemunduran. Diam bisa berarti dia pasrah, dan pasrah bukan tujuan. Yang saya mau adalah dia datang lagi.
Batasnya di mana
Ada titik di mana ini bukan lagi soal latihan sentuhan.
Kalau dia selalu menarik satu kaki tertentu, dan bukan kaki yang lain, itu bukan drama. Kalau dia menjerit waktu telinga bagian dalam disentuh, atau telinganya berbau atau keluar cairan gelap, saya berhenti dan bawa ke dokter hewan. Kalau kukunya menikung dan menusuk bantalan kakinya, memotongnya sendiri di rumah bukan pilihan saya. Kalau dia tiba-tiba tidak mau berdiri atau tidak mau makan, itu juga bukan soal kepercayaan.
Selain itu, tidak semua anak kucing sama. Ada yang hari pertama sudah bisa saya pegang bantalannya tanpa reaksi, ada yang butuh berminggu-minggu hanya untuk menerima dagunya dipegang. Kalau kamu membandingkan kecepatan anak kucingmu dengan anak kucing orang lain di internet, kamu akan mengambil keputusan yang salah untuk kucingmu sendiri.
Yang saya pegang sekarang sederhana: sentuhan pendek, sesering mungkin, dan selalu ada pintu keluar. Bulu, telinga, dan kuku hanya bagian dari hal yang sama, yaitu membuktikan bahwa tangan ini tidak menahan siapa-siapa.